Pendekatan akademis ini sejalan dengan pemikiran ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali yang menyatakan dalam Ihya Ulumuddin:
إِنَّ أَفْضَلَ الأَعْمَالِ تَزْكِيَةُ النَّفْسِ وَتَهْذِيبُهَا فِي سُلُوكِهِا إِلَى اللَّهِ
"Sesungguhnya amal yang paling utama adalah penyucian jiwa dan memperbaikinya dalam perjalanan menuju Allah."
Melalui penelitian dan karya tulisnya, Nasaruddin Umar berusaha membangun pemikiran Islam yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam konteks zaman modern.
3. *Pejuang Islam Moderat di Dunia Internasional*
Sebagai ulama yang aktif di forum internasional, Nasaruddin Umar berperan dalam membangun narasi Islam sebagai agama damai di tengah maraknya Islamofobia.
Dalam perjuangannya, ia menekankan pentingnya tasawuf sebagai penyempurna akidah Islam. Prinsip ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad, no. 8952).
Dalam perspektif sufi, tasawuf adalah cara untuk menjaga keseimbangan antara hukum syariat dan kelembutan spiritual. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Junaid Al-Baghdadi:
التَّصَوُّفُ هُوَ أَنْ يَكُونَ العَبْدُ مَعَ اللَّهِ بِغَيْرِ وَسِيلَةٍ
"Tasawuf adalah keadaan seorang hamba bersama Allah tanpa perantara."
Nasaruddin Umar menjadikan ajaran tasawuf sebagai sarana mendekatkan umat kepada Islam yang penuh cinta dan kasih sayang, jauh dari fanatisme yang memecah belah umat.
Sehingga dengan demikian Sebagai ulama, akademisi, dan pejuang Islam moderat, Nasaruddin Umar telah berkontribusi besar dalam menjaga akidah Islam yang berimbang, adil, dan penuh kasih sayang.
Dari Masjid Istiqlal sebagai pusat moderasi Islam, hingga kajian akademiknya yang mendukung Islam kontekstual, serta perannya dalam diplomasi internasional, ia terus membangun narasi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Keberadaannya di dunia Islam menjadi bukti nyata bahwa Islam yang moderat bukan hanya konsep, tetapi realitas yang dapat dijalankan demi menciptakan peradaban yang harmonis dan penuh rahmat bagi seluruh umat manusia.
*Kurikulum Cinta: Memperkuat Spirit Toleransi dan Persaudaraan*
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menawarkan sebuah konsep bernama Kurikulum Cinta, yang menekankan pentingnya membangun harmoni dan toleransi dalam keberagamaan.
Kurikulum Cinta bertujuan agar pendidikan agama tidak hanya berfokus pada aspek normatif dan doktrinal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut Prof. Nasaruddin, salah satu akar dari konflik berbasis agama adalah cara pengajaran yang menekankan eksklusivitas kebenaran, sehingga menimbulkan fanatisme yang berlebihan.
Oleh karena itu, dalam konsep ini, para pendidik dan pemuka agama diharapkan dapat mengajarkan cinta sebagai inti dari ajaran agama, bukan sekadar dogma yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Artikel Terkait
Kompak dan Terintegrasi Menggapai Swasembada Beras
Pertanian dan Kemakmuran Petani
Upaya Menuju Satu Harga Gabah
Mutiara Pagi: Kesenangan (Bagian 1760)
Restrukturisasi Organisasi, PAC GP Ansor Karangtengah Bentuk Pengurus Baru yang Kompeten
Mutiara Pagi: Identitas (Bagian 1761)
Racism is America's Original Sin
Islam dan Peperangan kepada Rasisme
PAC GP Ansor Karangtengah Gelar Rapat Agro Kader untuk Perkuat Ekonomi
Urgensi Akses dan Insfrastruktur Desa Sukamulya Cikadu Cianjur Selatan