KH Nasaruddin Umar: Ulama Moderat yang Konsisten dalam Menjaga Akidah Wasathiyah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 4 Februari 2025 | 05:55 WIB
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

4.*Tasawuf sebagai Jalan Penyempurnaan Akidah*

Tasawuf menjadi salah satu metode penting dalam membangun spiritualitas umat Islam. Nasaruddin Umar memiliki pemahaman tasawuf yang mengedepankan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan akhlak luhur dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
"Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10)
Nabi Muhammad SAW.bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
"Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan tasawuf, Nasaruddin Umar mengajarkan bahwa Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang membangun kebeningan hati, ketulusan dalam berbuat baik, dan kasih sayang terhadap sesama manusia.

Karena itu , maka Konsep washatiyah yang dikembangkan oleh Nasaruddin Umar adalah jalan keseimbangan yang menjaga kemurnian Islam tanpa terjebak ekstremisme, mengharmonikan tradisi dan modernitas, serta menawarkan tasawuf sebagai solusi spiritual bagi umat.

Dengan pemikiran yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, ia menjadi sosok ulama yang mencerahkan dan membimbing umat menuju Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

*Peran Nasaruddin Umar dalam Menjaga Akidah Washatiyah: Menegakkan Islam yang Moderat dan Rahmatan lil ‘Alamin.*

Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam senantiasa menekankan prinsip keseimbangan, keadilan, dan moderasi. Konsep ini dikenal dengan istilah wasathiyah (وسطية), yang berarti tengah, adil, dan tidak berlebihan. Allah SWT.berfirman dalam Al-Qur’an:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةًۭ وَسَطًۭا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًۭا ۗ
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (tengah/moderat) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu..." (QS. Al-Baqarah: 143).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, makna ummatan wasathan adalah umat yang adil dan terbaik, yang tidak condong ke ekstrem kanan (keras dan fanatik) maupun ekstrem kiri (liberal dan serba permisif). Nasaruddin Umar, dengan pendekatan akademis dan spiritualnya, menjadikan prinsip ini sebagai dasar perjuangannya dalam menjaga akidah Islam dari dua kutub ekstremisme: radikalisme dan sekularisme.

1. *Masjid Istiqlal sebagai Pusat Islam Moderat*

Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar telah mengarahkan masjid ini menjadi pusat dakwah Islam washatiyah yang tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat dialog lintas agama dan kajian Islam moderat.

Dakwah yang mengedepankan kelembutan dan hikmah sejalan dengan firman Allah:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl: 125).

Hadits Nabi SAW. juga menegaskan pentingnya lembut dalam berdakwah:
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا، فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا، فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ
"Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu bersikap lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya. Dan siapa saja yang mengurusi urusan umatku lalu bersikap keras kepada mereka, maka bersikaplah keras kepadanya." (HR. Muslim, no. 1828).

Melalui Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menjadikan moderasi Islam sebagai strategi dakwah yang menciptakan harmoni antara umat Islam sendiri maupun dengan pemeluk agama lain.

2. *Sebagai Akademisi dan Penulis: Mengembangkan Pemikiran Islam yang Kontekstual*

Nasaruddin Umar adalah akademisi yang memiliki kontribusi besar dalam dunia intelektual Islam. Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah "Argumen Kesetaraan Gender dalam Islam", yang menyoroti bahwa Islam telah memberikan hak kepada perempuan dalam batasan syariat. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:
إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ... وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًۭا عَظِيمًۭا
"Sesungguhnya laki-laki yang muslim dan perempuan yang muslimah, laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukminah... serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X