KH Nasaruddin Umar: Ulama Moderat yang Konsisten dalam Menjaga Akidah Wasathiyah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 4 Februari 2025 | 05:55 WIB
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Dakwahnya bukan dengan nada tinggi, bukan dengan retorika penuh ancaman, tetapi dengan kelembutan yang menyejukkan jiwa.

Saat dunia Islam dirundung badai ekstremisme dan fanatisme buta, ia memilih jalan berbeda. Ia tidak tergoda untuk membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menjawabnya dengan pemahaman yang dalam dan kasih sayang yang luas serta merata.

Menurutnya,Islam bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi tentang bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang indah.

Ia memahami bahwa kebenaran yang disampaikan dengan kasar hanya akan menimbulkan perlawanan, sedangkan kebenaran yang disampaikan dengan kelembutan akan mengetuk hati yang paling keras sekalipun.

Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, ia menjadikan rumah ibadah terbesar di Indonesia itu sebagai simbol persatuan, tempat di mana setiap orang dapat merasakan kesejukan Islam yang sesungguhnya.

Di sana, ia membuka pintu bagi siapa saja, muslim maupun non-muslim, ulama maupun akademisi, politisi maupun rakyat jelata, untuk berdialog, mencari titik temu, dan membangun harmoni.

Sebagai ulama universalis, ia tidak mengenal batas-batas yang memisahkan manusia. Ia menjelajah dunia untuk menyampaikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, dari ruang-ruang akademik hingga forum-forum internasional.

Di tengah perbedaan agama, budaya, dan ideologi, ia tetap teguh pada prinsipnya: Islam harus hadir sebagai cahaya, bukan sebagai bara api yang membakar.

Ia adalah cerminan dari sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam setiap langkahnya, ia membawa kelembutan itu, melembutkan hati yang keras, menyatukan yang tercerai, dan menyejukkan yang panas.

Di saat dunia terjebak dalam polarisasi, di saat manusia lebih suka mencari musuh daripada sahabat, Nasaruddin Umar datang sebagai pelita yang menerangi jalan. Ia membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat tidak berarti harus menjadi keras, bahwa menjadi penjaga akidah tidak berarti harus menjadi kaku, dan bahwa menjadi ulama tidak berarti harus berdiri di menara gading tanpa menyentuh realitas.

Dan kini, di usianya yang semakin matang, namanya bukan hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari inspirasi yang tak lekang oleh waktu.

Ia telah menorehkan jejak sebagai penjaga akidah yang moderat, pejuang dakwah yang santun, dan pelopor Islam yang damai.

Bagi siapa pun yang ingin melihat Islam dalam wajahnya yang paling indah, bagi siapa pun yang ingin merasakan kelembutan ajarannya, dan bagi siapa pun yang ingin belajar bagaimana menjadi seorang muslim yang rahmatan lil ‘alamin, maka lihatlah Nasaruddin Umar, dan temukan Islam dalam kebijaksanaannya, dalam senyumnya, dalam tutur katanya yang teduh, dan dalam akhlaknya yang sejuk seperti embun di pagi hari.

*Cahaya yang Bersinar Takkan Redup oleh Tuduhan*

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X