Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, ada banyak buku yang membahas kemunduran tradisi ilmiah (scientific temper) di dunia Islam. Salah satu yang terpenting ialah The Venture of Islam karya Marshall G. S. Hodgson.
Berbeda dari pendekatan yang sekadar mencari “siapa yang salah”, Hodgson melihat kemunduran dunia Islam sebagai proses sejarah kompleks dipengaruhi politik, perdagangan, budaya, militer, dan perubahan global.
Karena itu, kemunduran tradisi ilmiah tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor agama atau teologi semata.
Menurut Hodgson, dunia Islam klasik pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Bukhara, dan Cordoba tumbuh sebagai simpul jaringan intelektual.
Tradisi ilmiah berkembang karena stabilitas politik, jaringan perdagangan luas, patronase penguasa, serta keterbukaan terhadap ilmu asing.
Pada era Abbasiyah, karya-karya Yunani diterjemahkan dan dikembangkan oleh ilmuwan Muslim. Peradaban Islam tampil sebagai manifestasi mental kosmopolitan yang terbuka pada pertukaran gagasan lintas budaya.
Dari tradisi itu lahir tokoh-tokoh seperti Ibn Sina dalam kedokteran dan filsafat, Al-Khwarizmi dalam matematika, Ibn al-Haytham dalam optika dan metode ilmiah, serta ratusan ilmuwan perintis lainnya.
Kemajuan tersebut terjadi karena ilmu dipandang sebagai bagian dari peradaban tinggi, bukan ancaman bagi agama. Namun, fragmentasi politik, invasi Mongol, dan perubahan orientasi lembaga pendidikan membuat tradisi ilmiah melemah. Studi hukum dan agama praktis lebih dominan, sementara filsafat alam dan eksperimen ilmiah kehilangan dukungan.
Hodgson menolak anggapan bahwa Islam sejak awal anti-sains. Justru Eropa banyak mewarisi pengetahuan melalui dunia Islam.
Karena itu, kebangkitan tradisi ilmiah hanya mungkin dicapai melalui keterbukaan intelektual, penguatan institusi ilmu, kemampuan beradaptasi dengan modernitas, dan rekonsiliasi antara iman dengan rasionalitas.
Dengan demikian, sejarah Islam tidak dibaca sebagai kisah kejayaan yang hilang, melainkan sebagai pengalaman peradaban kosmopolitan yang pernah memimpin ilmu pengetahuan dunia dan masih bisa direkonstruksi untuk kembali mewarnai peradaban semesta.
Artikel Terkait
SITE UI 2026 Dorong Generasi Muda Kampanyekan Sustainable Tourism melalui Content Creation
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Wisata di Cianjur Sentuh Angka 82,02
AHWA dan Masa Depan Politik NU: Antara Demokrasi Elektoral dan Otoritas Ulama
Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU
MGMP Sejarah Kabupaten Cianjur Gelar Kunjungan Edukatif ke Situs Sejarah dan Budaya Lokal
Mutiara Pagi: Percakapan Dua Orang Sahabat (Bagian 2217)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Belajar Keikhlasan dan Ketaatan dari Nabi Ibrahim di Hari Raya Kurban (Bagian 40)
Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)
Memahami Bab Ketiga Qanun Asasi dan Relevansinya Saat Ini
Le Eminence Buka Lowongan Kerja Sektor Perhotelan di Puncak dan Lembang