Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Membaca Tanda Kemabruran Haji (Bagian 43)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 12 Juni 2026 | 08:24 WIB
5 Ciri Haji Mabrur. /Pixabay
5 Ciri Haji Mabrur. /Pixabay

 

JOURNALNUSANTARA.COM - Bagi setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji, meraih predikat haji mabrur adalah puncak dari segala harapan.

Namun, kemabruran sebuah ibadah tidak hanya diukur dari kekhusyukan saat berada di Makah dan Madinah, melainkan dari jejak kebaikan yang ditinggalkan setelahnya.

Para ulama sepakat bahwa tanda paling utama dari haji yang mabrur adalah adanya perubahan positif dalam perilaku sehari-hari.

Seseorang yang pulang dari tanah suci idealnya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih religius, dan lebih terjaga tutur katanya dibandingkan sebelum berangkat.

Salah satu indikator nyata yang sering disebut dalam literatur Islam adalah meningkatnya kepedulian sosial.

Haji yang mabrur melahirkan sifat kedermawanan, di mana sang haji menjadi lebih gemar berbagi, memberi makan kepada yang lapar, dan menebarkan kedamaian di lingkungannya.

Selain itu, orientasi hidup seorang haji mabrur biasanya mengalami pergeseran yang cukup signifikan.

Fokus kehidupan tidak lagi melulu tentang ambisi duniawi atau kemewahan materi, melainkan lebih mengutamakan persiapan dan bekal untuk kehidupan akhirat.

Kualitas ibadah ritualnya pun ikut meningkat secara konsisten. Shalat lima waktu menjadi lebih terjaga, ibadah sunnah semakin rutin ditegakkan, dan ada rasa rindu yang mendalam untuk selalu dekat dengan masjid serta majelis ilmu.

Tanda kemabruran juga terpancar dari runtuhnya kesombongan diri. Gelar haji yang disandang tidak menjadikannya tinggi hati, melainkan justru membuahkan sikap tawadhu, ramah, dan menjadi teladan yang menyejukkan bagi keluarga serta masyarakat sekitar.

Pada akhirnya, membaca tanda kemabruran haji adalah dengan melihat konsistensi atau istiqamah.

Kemabruran bukanlah sebuah label instan, melainkan sebuah proses pembuktian sepanjang hayat bahwa perjalanan suci yang telah ditempuh benar-benar membekas dan mengubah jiwa menjadi lebih mulia.

Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB
X