Oleh: Unang Margana
Praktisi Hukum dan Pemerhati di Bengkel Politik Cianjur
"Bangsa yang besar bukan hanya menghormati sejarahnya, tetapi mampu menjadikan sejarah sebagai kompas menuju masa depan."
Bagi kita rakyat Cianjur, Hari Jadi bukan sekadar menghitung bertambahnya usia daerah. Ia adalah momentum ngaca untuk bercermin pada jejak para karuhun, mengevaluasi perjalanan hari ini, lalu menata langkah untuk masa depan. Di situlah makna sesungguhnya dari merawat warisan dan menjemput masa depan.
Tepat pada 12 Juli 2026, Kabupaten Cianjur memasuki usia ke-349 tahun. Rentang waktu yang panjang sejak berdirinya Cianjur pada 12 Juli 1677 di bawah kepemimpinan Raden Aria Wiratanudatar I.
Hampir tiga setengah abad perjalanan sejarah telah membentuk Cianjur menjadi daerah yang dikenal religius (kota santri), agraris, kaya budaya, serta memiliki filosofi kehidupan yang kuat.
Akan tetapi usia yang panjang tidak boleh hanya menjadi kebanggaan semu. Ia harus menjadi ukuran kedewasaan. Sebab sebuah daerah tidak dinilai dari berapa lama ia berdiri, melainkan dari sejauh mana mampu menghadirkan kesejahteraan, penegakkan hukum, keadilan, dan harapan bagi masyarakatnya.
Karena itu, Hari Jadi Cianjur bukan sekadar seremoni. Bukan hanya panggung hiburan, baliho ucapan selamat, atau pidato yang berulang setiap tahun. Hari Jadi seharusnya menjadi ruang evaluasi yang jujur terhadap capaian pembangunan sekaligus keberanian memperbaiki kekurangan.
Cianjur sesungguhnya dianugerahi modal yang luar biasa. Hamparan sawah yang subur menjadikannya salah satu lumbung pangan Jawa Barat. Potensi kopi, teh, hortikultura, peternakan, hingga perikanan terus berkembang.
Bentang alamnya menyimpan pesona wisata, mulai dari Kebun Raya Cibodas, Cipanas, Situs Megalitikum Gunung Padang, hingga kawasan pantai selatan yang eksotis. Kekayaan budaya Sunda pun tetap hidup melalui tradisi, seni, bahasa, dan nilai-nilai sosial yang diwariskan lintas generasi.
Sayangnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesejahteraan masyarakat. Produk pertanian masih didominasi penjualan bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati daerah lain.
Hilirisasi industri berbasis pertanian belum berkembang optimal. Potensi wisata masih menghadapi persoalan infrastruktur, promosi, tata kelola, dan pemberdayaan masyarakat. Di sisi lain, banyak generasi muda memilih mencari pekerjaan di kota-kota besar bahkan ke luar negeri karena kesempatan ekonomi di daerah sendiri masih terbatas.
Di bidang sosial, semangat gotong royong dan religiusitas masyarakat tetap menjadi kekuatan utama. Namun tantangan kemiskinan, pengangguran, kualitas pendidikan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia masih membutuhkan perhatian yang lebih serius.
Pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia. Sebab kemajuan sejati tidak hanya diukur dari jalan yang dibangun, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakat yang melaluinya.
Dalam aspek politik dan tata kelola pemerintahan, masyarakat tentu mengapresiasi berbagai capaian pembangunan yang telah diraih. Namun demokrasi yang sehat tidak tumbuh dari pujian semata. Pemerintah justru memerlukan kritik yang jujur sebagai energi perbaikan.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Merawat dan Menata Hati di Tengah Gempuran Fitnah (Bagian 45)
BEM PTNU Desak DPR RI Evaluasi Tata Kelola Kejaksaan Agung
Poster Film "Yang Sudah Boleh Pulang" Resmi Dirilis Sineas Cianjur
LPTQ Cianjur Gandeng Lintas Sektor Matangkan Persiapan MTQH XLVIII di Pagelaran
Pagi, Aku Tak Berarti?
Mutiara Pagi: Hati yang Saling Mengenal (Bagian 2267)
Dugaan Korupsi Dana Reses Dewan, Cianjur Parliament Watch Tuntut Transparansi
Hari Jadi Cianjur ke-349: Ketika Ngaos, Mamaos, dan Maenpo Menjadi Cermin Pembangunan
Menjaga Kredibilitas Hukum di Tengah Arus Spekulasi