Oleh: Unang Margana
Ketua DPC IKADIN Cianjur
Polisi yang kuat lahir dari masyarakat yang percaya. Masyarakat yang tenang lahir dari polisi yang melindungi dan mengayomi .
Ada rasa aman yang tidak bisa diukur dengan sirine. Rasa aman saat anak SD berani lapor kehilangan mainan ke Pak Polisi. Saat ibu-ibu pasar minta dikawal pulang malam. Saat siswa SMA berani curhat soal tawuran. Disitulah seragam polisi berhenti jadi jarak, dan mulai jadi jembatan. Dari seragam ke hati.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 13 mengamanatkan Polri untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Tiga kata itu sederhana, tapi isinya adalah kepercayaan seluruh rakyat.
1. Sahabat: Hadir Sebelum Dipanggil
Polisi sahabat itu yang datang saat ada kerja bakti, bukan cuma saat ada razia. Yang mampir ke posyandu, jadi pembina upacara, ingat nama adik-adik di TPA. Di desa-desa Cianjur, Bhabinkamtibmas sudah jadi bagian keluarga. Dia tahu siapa yang jualan, siapa yang lagi susah, siapa anaknya yang rajin sekolah.
Data Polri 2024 mencatat ada 40.522 Bhabinkamtibmas di seluruh Indonesia. Jika 1 Bhabin dipercaya 2.000 warga, berarti ada 80 juta rakyat punya teman di kepolisian.
Ketika warga lebih dulu lapor ke Bhabin daripada ke medsos, itu tanda kepercayaan sudah tumbuh. Dan kepercayaan itu mahal harganya.
2. Melindungi: Menenangkan, Bukan Menakutkan
Melindungi bukan selalu soal kejar-kejaran. Kadang bentuknya sederhana: nyalakan lampu patroli di gang gelap. Dampingi korban KDRT biar berani bicara. Antar anak hilang sampai ketemu orang tuanya.
Kita ingat pasca gempa Cianjur 2022. Polisi jaga dapur umum, kawal bantuan, nenangin warga yang trauma. Seragamnya tegas, tapi caranya manusiawi.
Itu melindungi. Membuat kita yakin: Kalau ada apa-apa, ada yang datang`.
3. Mengayomi: Hukum yang Membumi
Tidak semua masalah harus berakhir di penjara. Ada remaja salah pergaulan, ada sengketa batas tanah, ada hutang-piutang yang bikin ribut kampung. Di sinilah Polri pakai hati.
Artikel Terkait
Mencegah Korupsi di Tatar Santri
Audiensi Putri Hijabfluencer Banten di Kelurahan Gelam Jaya, Matangkan Sinergi Program Pemberdayaan Perempuan
Mutiara Pagi: Berdamai dengan Kelebihan (Bagian 2257)
GMCM Pertanyakan Progres Proyek Jalan Cimaskara–Padasuka Senilai Rp12,6 Miliar
Santri Lintas Jenjang Ikuti Sanlat Liburan di Pondok Pesantren Mama Cipoek At-Tafsiri
Wahai Mentari Pagi!
Pelopor Komunikasi Islam di Cianjur, Prodi KPI STAINU Siapkan Lulusan Media Digital
Peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 di Cianjur, Momentum Perkuat Soliditas Lintas Sektoral
Lewat Kerja Nyata Hari Bhayangkara, Polres Cianjur Tekad Rebut Kepercayaan Publik
Membaca Arah Bangsa, Mengapa Literasi Politik Kini Menjadi Kebutuhan Strategis Kaum Santri