Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB
Ilustrasi makan di pesawat (tempo.co)
Ilustrasi makan di pesawat (tempo.co)

Oleh: Yudi Latif

"Kedaulatan pangan bukan sekadar soal bagaimana memenuhi dan apa yang kita makan, tetapi juga soal siapa kita sebagai bangsa."

Setiap kali kita duduk di depan meja makan, sesungguhnya kita sedang mengambil keputusan yang jauh lebih besar daripada sekadar memilih apa yang akan kita santap.

Kita sedang menentukan siapa yang akan hidup dari hasil kerja kita.

Kita sedang menentukan tanah mana yang akan tetap subur atau perlahan kehilangan maknanya.

Kita sedang menentukan apakah desa akan terus berdenyut sebagai ruang kehidupan atau berubah menjadi halaman belakang yang ditinggalkan.

Makan tidak pernah sekadar mengenyangkan perut. Makan adalah tindakan kebudayaan. Makan adalah tindakan ekonomi. Makan adalah tindakan politik. Dan pada akhirnya, makan adalah tindakan peradaban.

Setiap pilihan pangan meninggalkan jejak. Jejak itu menghubungkan petani dengan pasar, nelayan dengan laut, hutan dengan mata air, benih dengan masa depan, bahkan sebuah bangsa dengan jati dirinya.

Karena itu, meja makan bukan hanya tempat bertemunya manusia dengan makanan.
Meja makan juga tempat bertemunya manusia dengan sejarah.
---

Paradoks Negeri yang Diberkahi

Ironisnya, Indonesia menghadapi sebuah paradoks yang tidak kecil.

Kita hidup di negeri yang dikaruniai salah satu kekayaan hayati terbesar di dunia. Bentang alam Nusantara menumbuhkan beragam tanaman pangan: padi, sagu, jagung, sorgum, talas, sukun, ubi kayu, ubi jalar, pisang, aneka kacang-kacangan, rempah-rempah, serta ribuan varietas buah dan sayuran yang berkembang mengikuti kearifan setiap daerah.

Hampir setiap wilayah di Nusantara memiliki tradisi pangan sendiri. Setiap zona alam melahirkan tanaman khas, dan setiap komunitas mewariskan pengetahuan yang terbentuk selama berabad-abad.

Alam seolah menitipkan kepada Indonesia sebuah laboratorium kehidupan yang nyaris tak tertandingi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB
X