Berguru pada Pohon

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB
Ilustrasi: pohon Gaharu Buaya atau Aetoxylon sympetalum. (Selingkar Wilis)
Ilustrasi: pohon Gaharu Buaya atau Aetoxylon sympetalum. (Selingkar Wilis)

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, pohon secara diam-diam mengajarkan kebijaksanaan hidup: semakin tinggi menjulang, semakin dalam menumbuhkan akar; semakin luas meraih cahaya, semakin kokoh memeluk bumi; semakin luhur mencapai puncak pertumbuhan, semakin luas menyebarkan daya bagi seluruh bagian.

Seluruh pertumbuhannya mengikuti hukum yang sederhana, tetapi agung.

Gravitropik mengarahkan akar menghunjam ke dalam bumi; fototropik mengarahkan tajuk batang, cabang, dan daun menjulang menuju cahaya.

Dua gerak yang berlawanan arah, tetapi berpadu dalam satu irama kehidupan. Yang satu menjaga kesetiaan kepada asal; yang lain menumbuhkan keberanian menyongsong masa depan.

Dua arah pertumbuhan itu dilengkapi dengan dua jaringan yang tak pernah berhenti mengalir. Xilem mengangkat air dan mineral dari akar menuju pucuk, memberi daya bagi pohon untuk meninggi.

Floem mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian pohon, memastikan setiap bagian memperoleh daya untuk bertumbuh dan berbuah. Yang satu mengangkat kehidupan; yang lain mengalirkannya. Karena itulah pohon tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh utuh.

Barangkali, perkembangan manusia pun seyogianya mengikuti hukum pertumbuhan yang telah lama diajarkan pohon.

Kita sering mengira bahwa bertumbuh berarti meninggalkan. Semakin tinggi seseorang atau suatu bangsa menjulang, semakin jauh ia merasa harus melepaskan akar yang membentuk dirinya. Padahal pohon mengajarkan sebaliknya.

Tidak ada daun yang tumbuh tanpa akar yang juga bertumbuh.

Setiap kali tajuk meraih cahaya melalui fototropik, pada saat yang sama akar memperdalam gravitropiknya. Pertumbuhan selalu berlangsung dalam dua arah sekaligus: menuju masa depan dan kembali kepada asal.

Yang tampak hanyalah batang, daun, bunga, dan buah. Padahal kehidupan dibangun oleh akar yang bekerja dalam kesunyian.

Begitu pula kebudayaan. Akar adalah metafora bagi ingatan kolektif: bahasa, nilai, etika, keyakinan, sejarah, dan kearifan yang memberi sebuah bangsa identitas serta daya hidup.

Tajuk adalah metafora bagi peradaban: ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kreativitas, dan segala ikhtiar manusia memperluas cakrawala kehidupannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB
X