JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Cianjur H Shalahudin Al-Ayubi menegaskan bahwa perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur'an dan Hadits ke-48 Tingkat Kabupaten Cianjur bukan sekadar ajang unjuk kebolehan.
Agenda tahunan ini harus dijadikan batu pijakan untuk memperkuat syiar Islam serta menginternalisasi ajaran kitab suci ke dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Shalahudin saat menghadiri acara penutupan MTQH ke-48 yang dipusatkan di Kecamatan Pagelaran.
Menurutnya, lantunan ayat suci yang menggema selama perlombaan semestinya terpancar dalam tindakan nyata, kesederhanaan sikap, dan penguatan tali persaudaraan sesama warga masyarakat.
Shalahudin Al-Ayubi menuturkan, "MTQH telah sampai pada muaranya yang penuh berkah. Helatan ini hadir untuk meninggikan syiar Al-Qur'an, menyatukan masyarakat dalam ikatan ukhuwah, sekaligus membuka jalan pencerahan jiwa dan kemajuan daerah."
Shalahudin Al-Ayubi menambahkan, "Al-Qur'an adalah samudra hikmah yang tidak pernah kering. Setiap huruf yang dibaca menjadi benih kebaikan, sementara zikir kepada Allah menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan bagi setiap hamba."
Kepada para qari dan qariah yang berhasil meraih gelar juara, Shalahudin mengingatkan agar capaian tersebut tidak memicu rasa sombong, melainkan menjadi pendorong untuk semakin tawaduk.
Sementara bagi peserta yang belum berkesempatan menang, ia berpesan agar tidak patah semangat karena ikhtiar mempelajari Al-Qur'an merupakan ibadah sepanjang hayat.
Shalahudin Al-Ayubi mengatakan, "Kepada para juara, jadikan prestasi ini sebagai pemantik ketundukan kepada Allah SWT. Bagi yang belum meraih juara, jangan pernah berhenti belajar Al-Qur'an karena tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu."
Ia menekankan bahwa berakhirnya ajang kompetisi keagamaan ini justru menandai dimulainya babak baru pembinaan generasi Qurani di seluruh pelosok Cianjur. Seluruh elemen masyarakat diajak untuk terus menghidupkan gema ayat-ayat suci di lingkungan keluarga, sekolah, hingga tempat ibadah.
Shalahudin Al-Ayubi memungkas, "MTQH boleh berakhir, tetapi gema Al-Qur'an di Kabupaten Cianjur tidak boleh padam. Nilai-nilai Al-Qur'an harus terus hidup di masjid, madrasah, pesantren, sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat sebagai fondasi membangun generasi Qurani."
Artikel Terkait
Melindungi Anak dan Perempuan: Menjaga Masa Depan Bangsa
Transformasi BRIvolution Reignite, Akselerasi Kinerja BRI dan Perkuat Ekonomi Kerakyatan
Catatan Mini Monografi KKN 254 UIN Bandung di Desa Bunisari Cianjur
Dukung Pendidikan Al-Qur'an, Mahasiswa KKN Kelompok 4 Salurkan Bantuan Iqro pada Madrasah Assobrowiyah
Perkuat Kontribusi Danantara bagi Perekonomian Nasional, BRIvolution Reignite Kian Akseleratif
2 Konglomerat Diperiksa Dugaan TPPU Febrie Adriansyah: Bisnis hingga Skandal Densus 88
Mutiara Pagi: Diamlah Sejenak (Bagian 2287)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menepis Mitos Bulan Safar dengan Optimisme (Bagian 48)
MUI Usulkan Koruptor Dihukum Mati, Akankah Terwujud?
MTQH ke-48 Cianjur Sukses Digelar, Libatkan 654 Peserta dari 32 Kecamatan