Obor Hijriah Perangi Korupsi

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB
Unang Margana
Unang Margana

Oleh : Unang Margana*

Masyarakat muslim di berbagai daerah Indonesia memeriahkan Tahun Baru Islam, dengan menggelar berbagai kegiatan diantaranys Pawai Obor. Malam ini obor-obor kecil akan menyala di Jalan Raya, jalan-jalan desa, gang-gang kampung. Anak-anak, Remaja, Ibu-ibu, bapak-bapak membawa obor, melantunkan shalawat, menyambut 1 Muharram 1448 H. Tahun Baru Hijriah bukan sekadar ganti kalender. Ia adalah napak tilas hijrah: "keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan".

Apa arti obor hijriah di tengah gelapnya korupsi hari ini. Sejarawan Kuntowijoyo menyebut, hijrah adalah “revolusi tanpa darah”. Musuhnya bukan orang, tapi mentalitas. Maka perang melawan korupsi hari ini adalah jihad hijriah terbesar.

Indonesia di Tahun 2026 masih tidak baik-baik saja (sakit). KPK mencatat, dalam setahun terakhir ada beberapa kepala daerah tersandung korupsi. APBD bocor, bansos sunat, proyek mark-up. Rakyat diminta hijrah dari kemiskinan, tapi pejabatnya justru hijrah ke sel tahanan. Obor di tangan komunitas muslim malam ini, seharusnya menyindir kita semua: terang itu ada, tapi berani tidak kita menggunakannya untuk menyorot manipulasi, kebusukan, dan kemunafikan.

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah 1448 tahun lalu bukan pelarian. Hijrah Rosul sebagai Revolusi Moral. Itu bagian strategi politik dan moral. Di Makkah, dengan sistem jahiliyah (zalim): riba merajalela, pemimpin Quraisy dagang jabatan, kaum lemah ditindas. Nabi tidak berkompromi. Beliau hijrah untuk membangun sistem baru di Madinah: _Piagam Madinah_. Isinya transparansi, akuntabilitas, keadilan hukum. Gubernur korup dicopot. Baitul Mal diaudit terbuka.

Nilai hijrah ada 3 yang relevan hari ini. 1).Hijrah dari niat; Di Madinah, baiat pertama adalah niat melayani. Bukan memperkaya diri. Korupsi lahir karena niat pejabat sudah hijrah dari amanah ke komisi. Obor hijriah menampar: jabatan itu ibadah, bukan investasi. 2).Hijrah dari sistem; Rasulullah memutus mata rantai patronase Quraisy. Beliau bangun sistem baru yang anti-kongkalikong. Di kita, APBN dan APBD masih jadi "bancakan". Maka hijrah hari ini artinya: reformasi total sistem pengadaan, digitalisasi anggaran sampai level desa, dan transparansi real-time yang bisa diawasi warga desa dan santri di pesantren. 3).Hijrah dari diam; Kaum Anshar Madinah berani pasang badan membela kebenaran. Mereka tidak bilang “bukan urusan saya”. Korupsi langgeng karena kita diam. Obor hijriah adalah ajakan: lapor, viralkan, kawal. KPK kuat karena ada partisipasi publik.

Penutup

"Nyalakan Obor dari Diri Sendiri".

Tahun Baru Hijriah bukan pawai kembang api. Ia kontemplasi: sudah sejauh mana kita hijrah? Jika komunitas muslim berani membawa obor menembus gelap malam, kenapa kita takut menyalakan obor kejujuran di kantor, di desa, di DPRD? Perang melawan korupsi tidak butuh malaikat. Cukup manusia yang mau hijrah: dari tanda tangan fiktif ke tanda tangan jujur. Dari SPJ bodong ke laporan akuntabel. Dari diam ke bersuara.

Pemerintah Pusat dan Daerah, bisa mulai dengan "Hijrah Anggaran 1448 H": audit total dana desa triwulan III, buka data APBD 2026 dalam format warga, dan potong 50% perjalanan dinas yang tidak urgen. Hematnya dialihkan ke beasiswa anak, petani anak buruh,dll. Ulama bisa hijrahkan mimbar: khutbah Jumat tidak lagi hanya soal neraka, tapi juga soal neraka koruptor. Pesantren bikin kurikulum fikih antikorupsi. Kita, rakyat biasa, hijrah dari permisif. Tidak lagi bilang “ah korupsi dikit wajar”. Sebab 1 Muharram mengingatkan: sekecil apa pun keburukan, jika dibiarkan, akan jadi sistem.

Obor hijriah malam ini jangan padam di halaman masjid dan tempat finish Pawai Obor. Bawa pulang ke rumah, ke kantor, ke ruang rapat. Biar terang. Biar maling tak betah. Karena sejatinya, hijrah terbesar hari ini adalah hijrah dari mental korup menuju Indonesia yang bersih. Jika tidak dimulai 1 Muharram 1448 H, kapan lagi?

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Saatnya menyalakan obor, bukan sekadar menyalakan petasan.

16 Juni 2026/1 Muharam 1448 H

*Dosen, Advokat, Pemerhati Kebijakan Publik

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X