Oleh: R. Yulian Faluzia (Si Pangsi Toetoeng)
Inti konsep ini bukan hanya menambahkan “muatan lokal Sunda” dua jam dalam seminggu. Tetapi merancang ulang sekolah atau pusat belajar supaya Sunda menjadi lensa untuk memahami sains, etika, ekonomi, dan kehidupan. Di dalam konsep ini, selain para pendidik, wajib melibatkan tokoh adat atau figur yang mempunyai kompetensi di bidangnya.
Berikut adalah rincian konsep dasar pendidikan Ki Sunda kontemporer:
Filsafat Dasar: “Ngawangun Manusa Sunda”
Tujuan pendidikan ini bukan sekadar lulus ujian, tetapi harus menghasilkan manusia yang:
Ngarti: Paham akar sejarah, bahasa, dan logika berpikir Sunda.
Ngarti Kebutuhan Zaman: Mampu menguasai teknologi, sains, dan ekonomi modern tanpa kehilangan arah.
Bisa Ngawangun: Memiliki proyek nyata yang menyelesaikan masalah di komunitas atau lingkungannya.
Ketiga pilar ini diambil dari falsafah Silih Asih (etika), Silih Asah (kecerdasan), dan Silih Asuh (tanggung jawab sosial).
Struktur Kurikulum: Model 30-40-30
Pendidikan Ki Sunda Kontemporer membagi waktu belajar menjadi tiga zona:
A. 30% - Kasundaan Inti
Ini bukan pelajaran hafalan, melainkan fondasi cara berpikir.
Basa & Aksara Sunda Fungsional: Belajar bahasa Sunda bukan untuk lomba pidato, melainkan dipakai untuk presentasi proyek sains, menulis proposal usaha, dan dokumentasi lapangan. Aksara Sunda diaplikasikan untuk ekonomi kreatif seperti desain grafis, tipografi, kaligrafi, hingga branding produk lokal.
Artikel Terkait
Kajian Obat Kecewa di Cianjur, Target Hadirkan Ratusan Anak Muda
Pegadaian Area Kramat Jati Fasilitasi Kemudahan Umat Muslim Menuju Tanah Suci melalui Program Arrum
Mutiara Pagi: Musik dan Kehidupan (Bagian 2220)
Polres Cianjur Gelar Konvoi 'Mapag Jawara' Sambut Kepulangan Pemain Persib
Dua Wajah Indonesia
Mutiara Pagi: Delapan Benda Langit (Bagian 2221)
Sukses Menggelar Pemilihan, RW 07 Pepabri Gunteng Cianjur Miliki Ketua Baru
Empat Pilar Jaga Warga Tetap Rukun
Qurban dan Kepedulian Sosial
Mutiara Pagi: Dua Poros Peradaban Dunia (Bagian 2222)