Dalam Al-Qur’an, konsep kemuliaan manusia ditegaskan dalam QS. Al-Isra’: 70, yang menyatakan bahwa Allah telah memuliakan anak Adam tanpa membedakan suku, ras, atau agama. Hal ini menjadi dasar bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang.
Dengan menanamkan pemahaman seperti ini sejak dini, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh dengan sikap inklusif dan menghargai perbedaan.
Melalui Kurikulum Cinta, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai nilai utama dalam interaksi sosial.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, konsep ini juga berkontribusi dalam memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa, sehingga Indonesia tetap menjadi contoh negara yang damai dalam keberagaman.
*PENUTUP*
Sejarah selalu mencatat nama-nama yang menjadi lentera bagi zaman. Ada yang hadir dengan gagah perkasa, mengukir jejak dengan pedang dan takhta, namun ada pula yang datang dengan kelembutan, menjadikan kata-kata dan kebijaksanaan sebagai senjata yang menaklukkan hati.
Di antara mereka, ada satu nama yang mengalir dalam arus sejarah dengan penuh keteduhan dan kebijaksanaan: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.
Ia bukan sekadar seorang ulama, bukan sekadar seorang cendekiawan, tetapi ia adalah sosok yang menghadirkan Islam dalam bentuknya yang paling indah: Islam yang mendamaikan, bukan mengoyakkan; Islam yang merangkul, bukan menyingkirkan; Islam yang sejuk, bukan membakar emosi.
Ia adalah penjaga akidah yang wasathiyah, seorang yang mengerti bahwa Islam bukan hanya soal hukum dan aturan, tetapi juga soal hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan pikiran yang terbuka.
Dari perjalanan hidupnya yang panjang, dari lorong-lorong pesantren hingga mimbar-mimbar akademik dunia, ia terus mengajarkan bahwa Islam bukanlah menara gading yang hanya bisa dijangkau segelintir orang, tetapi samudra luas yang airnya harus mengalir ke setiap hati yang haus akan kedamaian.
Di tengah riuhnya zaman, ketika perbedaan sering kali menjadi pemantik kebencian, Nasaruddin Umar memilih menjadi jembatan, bukan tembok. Ia memahami bahwa keagungan Islam tidak terletak pada kerasnya suara dalam perdebatan, tetapi pada kelembutan dalam memahami perbedaan.
Dalam setiap tutur katanya, dalam setiap langkahnya, ia selalu berusaha menghadirkan Islam yang penuh kasih sayang, Islam yang bukan hanya dipahami dalam lembaran kitab, tetapi dihidupkan dalam setiap interaksi sosial.
Sebagai ulama yang mengemban tugas besar, ia tidak pernah memilih jalan pintas dengan menyulut api konflik, tetapi selalu menempuh jalan panjang penuh kesabaran untuk merajut persaudaraan.
Ia menolak segala bentuk kekerasan dalam beragama, karena ia meyakini bahwa Islam adalah agama yang diturunkan dengan cinta, bukan dengan kebencian; disebarkan dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan.
Ketika dunia sibuk dengan polarisasi, ketika sebagian orang berlomba-lomba menanamkan sekat di antara manusia, Nasaruddin Umar justru hadir sebagai penjaga keseimbangan. Ia tidak berpihak pada ekstremisme kanan yang membatasi Islam dalam kekakuan, juga tidak condong pada ekstremisme kiri yang mereduksi Islam hingga kehilangan esensinya. Ia berdiri di tengah, memeluk semuanya dengan kebijaksanaan.
Artikel Terkait
Kompak dan Terintegrasi Menggapai Swasembada Beras
Pertanian dan Kemakmuran Petani
Upaya Menuju Satu Harga Gabah
Mutiara Pagi: Kesenangan (Bagian 1760)
Restrukturisasi Organisasi, PAC GP Ansor Karangtengah Bentuk Pengurus Baru yang Kompeten
Mutiara Pagi: Identitas (Bagian 1761)
Racism is America's Original Sin
Islam dan Peperangan kepada Rasisme
PAC GP Ansor Karangtengah Gelar Rapat Agro Kader untuk Perkuat Ekonomi
Urgensi Akses dan Insfrastruktur Desa Sukamulya Cikadu Cianjur Selatan