Islam dan Peperangan kepada Rasisme

photo author
- Senin, 3 Februari 2025 | 10:34 WIB
Ilustrasi Islam. (Pixabay/Shah_Graphics99)
Ilustrasi Islam. (Pixabay/Shah_Graphics99)


Oleh Imam Shamsi Ali

Rasisme adalah penyakit sosial manusia yang historis. Jika kita mengkaji perjalanan klasik yang disebut peradaban manusia akan kita dapati bahwa penyakit rasisme memang sejak dahulu adalah permasalahan utama yang dihadapi oleh setiap bangsa. Dari bangsa Mesir Kuno, Yunani, Romawi, hingga ke China dan India, semuanya memiliki sejarah kelam rasisme. Bahkan penjajahan negara-negara di Asia dan Afrika oleh Penjajah Barat, hingga didatangkannya warga hitam ke Amerika untuk diperbudak tidak lepas dari rasisme bangsa-bangsa penjajah itu.

Penjajahan bangsa Palestina sesungguhnya juga tidak bisa dilepaskan dari karakter rasis zionis yang merasa lebih superior karena mereka adalah orang-orang yang terpilih. Tidak mengejutkan ketika Menteri Pertahanan Israel pernah menyebut bangsa Palestina sebagai “manusia hewan” (human animals) beberapa waktu lalu. Pembunuhan dan genosida yang mereka lakukan tanpa perasaan bersalah karena mereka memang melihat bangsa Palestina sebagai bangsa yang tidak memiliki kemuliaan.

Sejarah Amerika juga tidak lepas dari mentalitas rasisme yang dalam. Kita tidak melupakan bagaimana kaum afro Amerika yang dipaksa datang ke negara ini dan dijadikan budak dan pekerja kasar oleh penjajah bangsa Barat. Realita inilah yang melahirkan pergerakan sipil di bawah kepemimpinan Martin Luther di tahun 1960-an. Bahkan kedatangan kaum Eropa di daratan Amerika menjadi catatan kelam sejarah bagaimana mereka memperlakukan warga asli Amerika. Tidak saja bahwa tanah dan kepemilikan mereka dirampas. Tapi mereka dipinggirkan sehingga dengan sendirinya semakin termarjinalkan dan tereliminir.

Sebelum Islam hadir di semenanjung Arabia rasisme dan prilaku rasis sangat tinggi. Kita mengenal perbudakan mereka yang lemah dan khususnya yang berkulit hitam seperti Bilal. Bahkan perbudakan menjadi gaya hidup dan dianggap kemuliaan bagi pihak-pihak yang merasa superior itu. Semakin banyak budak semakin merasa mulia dan terhormat.

Rasisme dari masa ke masa semakin kompleks dan canggih. Bahkan seringkali terbungkusi oleh slogan-slogan indah seperti kemerdekaan, kemanusiaan dan keadilan itu sendiri. Tapi sejatinya yang terjadi adalah pelegalan praktek rasis atas nama slogan-slogan indah itu. Kenyataannya rasisme tidak saja bersifat individual. Tapi telah menjadi permasalahan kebangsaan, permasalahan antar bangsa. Lebih runyam lagi rasisme seringkali bersifat sistemik atau menjadi bagian dari kebijakan pemerintah, di sengaja dan terbuka atau tidak disengaja dan diam-diam. Tapi dalam berbagai kebijakan pemerintah terselubung tendensi rasisme kepada pihak-pihak tertentu.

Perang Islam terhadap rasisme

Kedatangan Rasulullah membawa ajaran atau petunjuk Allah SWT hadir untuk melakukan transformasi totalitàs dalam kehidupan manusia. Salah satu ajaran mendasar Islam adalah mengembalikan semua manusia pada posisi yang setara sebagai hamba. Bahwa dalam hidup ini hanya ada satu yang superior, Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.

Beberapa pedoman dasar Islam dalam mengajarkan kesetaraan manusia. Ada empat dasar yang ingin saya sampaikan.

Pertama, berdasarkan prinsip-prinsip dasar Islam. Ada tiga prinsip dadar Islam yang kesemuanya mengajarkan kesetaraan manusia.

1). Prinsip Monoteisme (at-Tauhid). Mengikrarkan laa ilaaha illa Allah dan mengimani keesaan Allah memiliki manifestasi sosial dalam kehidupan manusia. Satu di antaranya yang terpenting adalah bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang superior kecuali Dia Yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Berikrar laa ilaa illa Allah tapi masih merasa lebih dari orang lain menandakan jika keimanan itu bermasalah.

2). Prinsip keadilan (al-‘adl). Keadilan dalam Islam tidak mengenal batas apapun. Bahkan musuh dalam pandangan Islam jika berhak atas keadilan harus diberikan. Al-Quran menegaskan: “jangan Karena kebencianmu pada suatu kaum lalu kamu tidak bersikap adil”. Di sinilah kesetaraan Islam dalam menerapkan keadilan kepada semua manusia tanpa batas.

3). Prinsip kasih sayang (ar-Rahmah). Dalam prinsip Islam semua manusia tanpa batas, termasuk batas ras, berhak mendapat kasih sayang yang sama.

Kedua, berdasarkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Al-Quran. Ada begitu banyak ayat-ayat yang mengajarkan kesetaraan manusia.

1). Al-Quran mengajarkan sumber penciptaan yang sama: nafsun wahidah (one soul). Hal ini ditegaskan di Al-Quran Surah 4 ayat 1.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X