2). Al-Quran mengajarkan kekeluargaan universal manusia yang satu. Bahwa semua manusia memilik ayah dan Ibu yang sama. Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa semua manusia diciptakan dari “seorang laki dan seorang wanita”.
3). Al-Qur’an menegaskan bahwa secara prinsip semua manusia diciptakan dengan dasar kesucian (fitrah). Hal ini ditegaskan di Surah Ar-Rum ayat 30.
4). Al-Qur’an menegaskan bahwa semua manusia dikarunia kemuliaan oleh Allah SWT tanpa batas ras. Hal ini ditegaskan di Surah Al-Isra ayat 70.
5). Al-Qur’an juga menegaskan bahwa ras dan warna kulit itu adalah keputusan Ilahi yang tidak melibatkan keterlibatan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa “Dialah Allah yang membentuk kamu sesuai yang Dia kehendaki” (Al Imran ayat 6).
Dan banyak lagi ayat-ayat lain dari Al-Quran yang menegaskan kesetaraan ras manusia.
Ketiga, prinsip praktek keagamaan. Pada aspek ini ditegaskan bahwa semua praktek keagamaan, ambillah misalnya rukun-rukun Islam, mengajarkan kesetaraan manusia.
Sholat mengajarkan kesetaraan dengan menyadarkan umat Islam bahwa ketika sedang dalam penyembahan semua sedang berada di hadapan Dia Yang Maha Tinggi Maha Besar. Semua sama di hadapannya, apapun ras dan keadaan dunianya.
Zakat mengajarkan kesetaraan dengan mengangkat derajat mereka yang lemah dan termarjinalkan. Memberikan Zakat kepada mereka yang miskin bukan menjadikan mereka kaya. Tapi memberikan rasa kemanusiaan dan memuliakannya sebagai manusia.
Puasa mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan itu ada pada nilai spiritualnya. Dan karenanya selama sebulan semua pelayanan kepada jasad dihentikan sementara demi menguatkan aspek spiritual kehidupan.
Haji tak diragukan lagi mengajarkan kesetaraan Universal. Jutaan manusia dari seluruh latar balakang negara dan ras berkumpul dengan perasaan yang sama, menghamba kepada Tuhan yang satu. Mengajarkan bahwa semua sama di hadapan Yang Maha Kuasa.
Keempat, berdasarkan kepada praktek dan ketauldanan hidup Rasulullah SAW. Rasulullah adalah tauladan terbaik bagi semua manusia (uswah hasanah).
1). Sejak awal pengikut beliau memiliki latar belakang ras yang ragam. Selain mereka yang bersuku Arab seperti Abu Bakar, Umar, Ali, dan lain-lain, juga kita kenal ada Bilal Al-Habashi, Suhaeb Ar-Rumi, dan Salman Al-Farisi. Semau mereka diperlakukan secara setara oleh Rasulullah SAW.
2). Mungkin yang paling fenomenal dari Rasulullah adalah deklarasi kesetaraan manusia dalam khutbah wada beliau. Di mana beliau menegaskan: “sungguh ayah kalian satu. Semua kalian dari Adam dan Adam tercipta dari tanah. Tidak ada superioritas orang Arab atas non Arab dan tidak ada superioritas non Arab atas Arab kecuali ketakwaan. Tidak ada superioritas orang putih atas orang hitam dan tidak ada superioritas orang hitam atas orang putih kecuali dengan ketakwaan”.
3). Rasulullah kisah dua sahabat yang agung. Sahabat Abu Dzar Al-Gifari dan Bilal bin Rabah berbeda pendapat dalam suatu masalah. Abu Dzar tidak menerima pendapatnya disanggah oleh Bilal, orang miskin, berkulit hitam dan mantan budak. Dia kemudian menyebutnya: “anak seorang wanita hitam”. Bilal tersinggung dan melaporkan itu ke Rasulullah SAW. Rasulullah menegur sahabat terhormat Abu Dzar itu dengan mengatakan: “Anda ada seorang yang masih memiliki kebodohan/jahiliyah”. Mendengar itu Abu Dzar bersujud dan meminta Bilal menginjak kepalanya karena merasa bersalah.
Itulah cara Rasulullah dan sikap tegas beliau dalam mengajarkan kesetaraan kepada umatnya. Bahwa semua sama di hadapan Allah SWT, siapapun dan apapun latar belakangnya.
Artikel Terkait
Kompak dan Terintegrasi Menggapai Swasembada Beras
Memperkokoh Ketersediaan Beras!
Pertanian dan Kemakmuran Petani
GP Ansor Cikalongkulon Ikut Andil dalam Kegiatan Penanaman Sejuta Pohon
Gelar Demontrasi, BEM STIES Mitra Karya Minta Kejari Kota Bekasi Usut Kasus Korupsi
Upaya Menuju Satu Harga Gabah
Mutiara Pagi: Kesenangan (Bagian 1760)
Restrukturisasi Organisasi, PAC GP Ansor Karangtengah Bentuk Pengurus Baru yang Kompeten
Mutiara Pagi: Identitas (Bagian 1761)
Racism is America's Original Sin