Di tengah gemerlap keberhasilan, selalu ada bayangan yang mencoba meredupkan sinarnya.
Di saat seseorang menapaki tangga prestasi, selalu ada angin fitnah yang berusaha menggoyahkan pijakannya.
Namun, seperti halnya matahari yang tetap menyinari meski awan hitam mencoba menutupinya, kebenaran takkan pudar hanya karena tuduhan.
Inilah yang terjadi pada Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, seorang ulama yang telah mengabdikan dirinya bagi Islam dan kemanusiaan, seorang pemimpin yang mengulurkan tangannya bagi persatuan dan keharmonisan, seorang cendekiawan yang membawa Islam ke panggung keagungan dengan kebijaksanaan dan ketulusan.
Ketika dunia mengakui prestasinya, ketika kerja kerasnya membuahkan apresiasi sebagai menteri paling berkinerja terbaik, justru segelintir suara sumbang mencoba mengecilkan namanya.
Mereka menuduhnya sebagai "kaki tangan Yahudi," sebagai "antek musuh Islam," seolah keberhasilannya adalah sebuah kejahatan yang harus dicurigai, bukan prestasi yang patut dibanggakan.
*Mengapa Keberhasilan Selalu Diuji oleh Fitnah?*
Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, semakin kencang pula angin yang berusaha menjatuhkannya.
Nabi Muhammad SAW. manusia paling mulia, bahkan dituduh sebagai tukang sihir dan pemecah belah masyarakat, padahal beliau adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Imam Syafi’i, seorang mujtahid besar, dituduh sebagai pengkhianat karena pandangan-pandangannya yang moderat dan rasional.
Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, difitnah sebagai perusak tatanan keilmuan karena pemikirannya yang begitu dalam.
Begitulah hukum alam. Orang-orang besar akan selalu menjadi sasaran tuduhan, bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena ada yang merasa terguncang oleh cahaya kebenaran yang mereka bawa.
Nasaruddin Umar bukanlah pengecualian. Keberhasilannya dalam membangun Islam yang damai, moderat, dan berwibawa, justru membuatnya menjadi target bagi mereka yang menginginkan perpecahan.
Mereka yang hidup dari kebencian tentu tidak menyukai ulama yang menyerukan kedamaian. Mereka yang ingin mempertajam sekat-sekat perbedaan tentu tidak menghendaki seorang jembatan yang menyatukan umat.
*Prestasi yang Berbicara, Bukan Tuduhan yang Tak Berdasar*
Artikel Terkait
Kompak dan Terintegrasi Menggapai Swasembada Beras
Pertanian dan Kemakmuran Petani
Upaya Menuju Satu Harga Gabah
Mutiara Pagi: Kesenangan (Bagian 1760)
Restrukturisasi Organisasi, PAC GP Ansor Karangtengah Bentuk Pengurus Baru yang Kompeten
Mutiara Pagi: Identitas (Bagian 1761)
Racism is America's Original Sin
Islam dan Peperangan kepada Rasisme
PAC GP Ansor Karangtengah Gelar Rapat Agro Kader untuk Perkuat Ekonomi
Urgensi Akses dan Insfrastruktur Desa Sukamulya Cikadu Cianjur Selatan