Ia bukan kaki tangan siapa pun kecuali kebenaran. Ia bukan antek siapa pun kecuali keadilan. Ia bukan piaraan siapa pun kecuali ilmu dan kebijaksanaan.
Sebagaimana matahari tetap bersinar meski diterpa badai, sebagaimana mutiara tetap berkilau meski terpendam dalam lumpur, demikian pula Nasaruddin Umar, ia akan tetap menjadi cahaya di tengah fitnah, tetap menjadi embun di tengah panasnya prasangka, tetap menjadi peneduh di tengah api permusuhan.
Dan sejarah akan mencatat, siapa yang menebar kebaikan akan dikenang, sementara mereka yang menebar fitnah hanya akan menjadi angin lalu yang hilang ditelan waktu.
*Nasaruddin Umar: Ulama Universalis dalam Cahaya Islam Rahmatan lil 'Alamin*
Dalam lautan ilmu yang luas, di antara bintang-bintang pemikiran Islam, beliau adalah sosok yang tidak hanya menjadi penjaga akidah, tetapi juga pelopor Islam yang inklusif, damai, dan penuh hikmah.
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA adalah gambaran ulama universalis yang menebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru tanpa batas sekat-sekat golongan, budaya, maupun agama.
Keuniversalannya tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam pemikiran dan tindakan. Islam yang ia usung bukanlah Islam yang kaku dan eksklusif, tetapi Islam yang hidup, fleksibel, dan mampu menyentuh setiap lapisan manusia tanpa kehilangan esensi ketauhidannya.
1. *Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin: Pesan Universal Kasih Sayang dan Keadilan*
Islam diturunkan sebagai rahmat, bukan hanya bagi kaum Muslimin, tetapi bagi seluruh makhluk. Konsep Islam yang dipahami Nasaruddin Umar berakar kuat pada prinsip rahmatan lil 'alamin, yang berarti membawa kebaikan, keadilan, dan kedamaian bagi semua. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini menjadi pondasi utama pemikirannya. Islam bukan agama yang menebar kebencian, tetapi agama yang menawarkan solusi bagi peradaban.
Islam tidak hadir untuk membangun permusuhan, tetapi untuk mendamaikan. Dalam pemikiran Nasaruddin Umar, rahmatan lil ‘alamin harus diwujudkan dalam sikap dan kebijakan yang adil serta kebijaksanaan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad dan al-Baihaqi)
Dari hadits ini, Nasaruddin Umar menekankan bahwa dakwah Islam tidak boleh hanya fokus pada hukum dan ritual semata, tetapi juga harus menjadi sarana perbaikan akhlak dan kesejahteraan umat manusia secara menyeluruh.
Dalam pandangannya, keadilan adalah inti dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
"Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan." (QS. An-Nahl: 90)
Bagi Nasaruddin Umar, Islam yang rahmatan lil ‘alamin bukan hanya jargon, tetapi harus tampak dalam kebijakan negara, dalam interaksi sosial, dalam hukum yang diterapkan, serta dalam cara dakwah yang santun dan penuh hikmah.
2. *Dialog Antaragama dan Interkultural: Jembatan Menuju Keharmonisan Sosial*
Artikel Terkait
Kompak dan Terintegrasi Menggapai Swasembada Beras
Pertanian dan Kemakmuran Petani
Upaya Menuju Satu Harga Gabah
Mutiara Pagi: Kesenangan (Bagian 1760)
Restrukturisasi Organisasi, PAC GP Ansor Karangtengah Bentuk Pengurus Baru yang Kompeten
Mutiara Pagi: Identitas (Bagian 1761)
Racism is America's Original Sin
Islam dan Peperangan kepada Rasisme
PAC GP Ansor Karangtengah Gelar Rapat Agro Kader untuk Perkuat Ekonomi
Urgensi Akses dan Insfrastruktur Desa Sukamulya Cikadu Cianjur Selatan