Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, watak pembangunan Indonesia itu ibarat Malin Kundang yang mengabaikan Ibu pertiwinya sendiri.
Indonesia dengan tepat dilukiskan Bung Karno sebagai negara lautan yang ditaburi pulau-pulau. Wilayah lautnya jauh lebih luas daripada daratannya, dengan perbandingan sekitar 70% lautan dan 30% daratan.
Kendati demikian, ada sesuatu yang sering luput dalam cara Indonesia memandang dirinya sendiri. Visi pembangunan keindonesiaan cenderung bias daratan. Kalaupun mencoba menoleh lautan, kita terlalu sering berbicara lautan sebatas ruang. Padahal bangsa-bangsa maritim yang berhasil tidak pernah melihat laut sekadar sebagai ruang.
Mereka melihat laut sebagai sistem ekonomi, ruang inovasi, sumber pengetahuan, dan fondasi peradaban.
Laut bukan hamparan air yang memisahkan pulau-pulau. Laut adalah infrastruktur yang menghubungkan manusia, perdagangan, teknologi, dan masa depan sebuah bangsa.
Di sinilah paradoks Indonesia bermula. Kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita berada di persimpangan salah satu jalur perdagangan paling strategis di planet ini. Kita memiliki sumber daya kelautan yang luar biasa, biodiversitas laut yang termasuk terkaya di dunia, serta garis pantai yang membentang lebih jauh daripada banyak negara maritim yang selama ini kita kagumi.
Namun setelah puluhan tahun pembangunan, sebuah pertanyaan tetap mengemuka:
Mengapa Indonesia yang begitu maritim secara geografis belum berkarakter maritim secara ekonomi dan peradaban?
Masalahnya bukan karena kita kekurangan laut. Justru sebaliknya. Terlalu lama kita menganggap laut sebagai keunggulan yang otomatis menghasilkan kemakmuran.
Kita merayakan statistik. 17.000 pulau. Ribuan pelabuhan. Jutaan kilometer persegi wilayah laut.
Tetapi sejarah dunia menunjukkan bahwa geografi tidak pernah otomatis menjadi kekuatan ekonomi.
Jika geografi adalah takdir, maka semua negara kepulauan pasti makmur.
Faktanya tidak demikian. Yang membedakan negara-negara maritim yang berhasil bukanlah luas laut yang mereka miliki.
Artikel Terkait
Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung
Strategi Jitu Mengkampanyekan Hotel agar Ramai Pengunjung
PPP Purwakarta Terima SK Kepengurusan Baru pada Hari Lahir Pancasila
Meriahkan HUT Ke-44 Yogya Group, Yomart Gelar Senam Sehat Bersama Puteri Indonesia di Cibaduyut
Mutiara Pagi: Ucapan (Bagian 2229)
Konsistensi 11 Tahun Makaffah Salon Merawat dan Memberdayakan Kaum Perempuan
Dugaan Kejanggalan Kematian Anak di Puskesmas Sindangbarang Cianjur Mencuat, Kuasa Hukum Siap Mengadu ke Komisi III DPR RI
Sektor Industri Dongkrak Realisasi Investasi Cianjur Triwulan I 2026 hingga Rp608 Miliar
Dugaan Laporan Fiktif dan Salah Dapil Dana Reses Anggota DPRD Cianjur Diprotes
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Evaluasi Bangsa, PC PMII Cianjur Serukan Penguatan Nilai Kebangsaan