Indonesia, Negara Kepulauan Alpa Peradaban Maritim

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 4 Juni 2026 | 05:42 WIB
Angkatan Laut Indonesia pada hari Senin (11/5/2026) resmi menerima kapal penyelamat kapal selam pertama mereka, KRI Canopus-936.
Angkatan Laut Indonesia pada hari Senin (11/5/2026) resmi menerima kapal penyelamat kapal selam pertama mereka, KRI Canopus-936.

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, watak pembangunan Indonesia itu ibarat Malin Kundang yang mengabaikan Ibu pertiwinya sendiri.

Indonesia dengan tepat dilukiskan Bung Karno sebagai negara lautan yang ditaburi pulau-pulau. Wilayah lautnya jauh lebih luas daripada daratannya, dengan perbandingan sekitar 70% lautan dan 30% daratan.

Kendati demikian, ada sesuatu yang sering luput dalam cara Indonesia memandang dirinya sendiri. Visi pembangunan keindonesiaan cenderung bias daratan. Kalaupun mencoba menoleh lautan, kita terlalu sering berbicara lautan sebatas ruang. Padahal bangsa-bangsa maritim yang berhasil tidak pernah melihat laut sekadar sebagai ruang.

Mereka melihat laut sebagai sistem ekonomi, ruang inovasi, sumber pengetahuan, dan fondasi peradaban.

Laut bukan hamparan air yang memisahkan pulau-pulau. Laut adalah infrastruktur yang menghubungkan manusia, perdagangan, teknologi, dan masa depan sebuah bangsa.

Di sinilah paradoks Indonesia bermula. Kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita berada di persimpangan salah satu jalur perdagangan paling strategis di planet ini. Kita memiliki sumber daya kelautan yang luar biasa, biodiversitas laut yang termasuk terkaya di dunia, serta garis pantai yang membentang lebih jauh daripada banyak negara maritim yang selama ini kita kagumi.

Namun setelah puluhan tahun pembangunan, sebuah pertanyaan tetap mengemuka:

Mengapa Indonesia yang begitu maritim secara geografis belum berkarakter maritim secara ekonomi dan peradaban?

Masalahnya bukan karena kita kekurangan laut. Justru sebaliknya. Terlalu lama kita menganggap laut sebagai keunggulan yang otomatis menghasilkan kemakmuran.

Kita merayakan statistik. 17.000 pulau. Ribuan pelabuhan. Jutaan kilometer persegi wilayah laut.

Tetapi sejarah dunia menunjukkan bahwa geografi tidak pernah otomatis menjadi kekuatan ekonomi.

Jika geografi adalah takdir, maka semua negara kepulauan pasti makmur.

Faktanya tidak demikian. Yang membedakan negara-negara maritim yang berhasil bukanlah luas laut yang mereka miliki.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X