Ziarah untuk Para Wartawan yang Dibunuh dan Kisah Rumah Sakit Jiwa

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 9 Juli 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)

Keseluruhan lima puisi esai yang panjang, semuanya soal drama di dunia wartawan. Jonminofri sendiri sejak awal memang menjadikan jurnalisme sebagai salah satu panggilan hidupnya.

Sesuai dengan pakem puisi esai, aneka kisah di puisi esai adalah true story. Ini kisah yang sebenarnya. Tapi dalam fakta itu dimasukkan kisah fiksi untuk dramatisasi.

Catatan kaki menjadi sentral di puisi esai. Ia menjadi wakil dari dunia faktual yang menjadi ibu kandung dan setting sosial puisi di atasnya.

Jonminofri termasuk generasi pertama puisi esai. Setahun sejak terbitnya buku puisi esai yang pertama “Atas Nama Cinta,” (2012), Jonminofri sudah aktif dalam gerakan puisi esai. Buku puisi esainya sudah disiapkan untuk terbit di tahun 2013-2014.

Karena satu dan lain hal, finalisasi buku puisi esai itu baru selesai di tahun 2024.

Sejak era sebelum Covid-19 hingga sekarang (2024), Jonminofri aktif dalam dua festival puisi esai tahunan.

Di Sabah Malaysia, dibiayai pemerintah setempat, berlangsung Festival Puisi Esai Tingkat ASEAN, yang di tahun 2024 ini sudah memasuki tahun ketiga.

Sedangkan di Indonesia, Festival Puisi Esai Nasional, di tahun 2024 memasuki tahun kedua.

Puisi esai dijadikan Jonminofri sebagai medium untuk juga mengabarkan sisi gelap dan unik dunia wartawan.

Kekerasan hingga pembunuhan wartawan itu memang isu penting untuk terus diberitakan. Isu ini bisa ditulis dalam bentuk makalah akademik, atau berita jurnalistik. Kedua bentuk tulisan itu harus setia pada fakta sebenarnya.

Sementara Jonminofri memilih menambahkan fiksi dalam fakta kekerasan wartawan itu agar lebih dramatis dan menyentuh hati.

Cara bertuturnya menjadi puisi esai. Sedangkan isi puisi esainya menggaungkan kembali true story, sepotong sejarah, di ruang publik agar kisah dunia wartawan itu lebih menggugah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X