Ziarah untuk Para Wartawan yang Dibunuh dan Kisah Rumah Sakit Jiwa

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 9 Juli 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)

Oleh: Denny JA

Dalam periode 20 tahun dari 2003 hingga 2022, sebanyak 1.668 jurnalis telah terbunuh di seluruh dunia, dengan rata-rata 80 jurnalis per tahun.

Demikianlah judul berita media Reporters Without Borders (2023): “1,668 journalists killed in past 20 years (2003-2022), average of 80 per year.”

Angka ini mencerminkan risiko besar yang dihadapi oleh jurnalis, terutama ketika meliput kejahatan kriminal atau politik.

Meskipun ada upaya global untuk melindungi jurnalis, tingkat impunitas terhadap pelaku pembunuhan jurnalis tetap tinggi. Ini membuat situasi keamanan bagi jurnalis investigatif mengkhawatirkan.

Data ini yang saya ingat ketika membaca puisi esai Jonminofri berjudul: "Pena Yang Ujungnya Mengalirkan Darah" (Terbit 2024).

Puisi ini mengisahkan seorang wartawan bernama Rudi. Ia berlari keluar kota, merasa dikejar dan mungkin akan dibunuh.

Dalam pelariannya, ia sekaligus ziarah kepada para wartawan sebelumnya yang disiksa hingga mati terbunuh karena "ujung penanya."

Jonminofri mengungkapkan kegelisahan Rudi:

"Tapi kali ini Rudi berpikir lain.
Ini bukan persoalan seperti kemarin-kemarin,
yang mengulas berita soal daging, mutasi, dan kain.

Kini berita yang ditulis menyangkut reputasi partai yang menang pemilu kemarin.
Jadi tak bisa main-main."

Rudi menulis soal partai politik yang menang pemilu. Tak dijelaskan ini pemilu yang mana, tahun berapa. Namun "ujung pena" Rudi sudah menjadi berita utama.

"Media lain ikut menulis ulang, dan berita itu menjadi bertambah besar. Presiden dan petinggi partai sudah berkali-kali membantah. Berita yang ditulis Rudi tidak benar, tidak valid, hanya isapan jempol, fitnah, hanya ingin mengadu domba, dan tuduhan negatif lain.

Sekarang semua media sudah memainkan isu itu. Rudi merasa dialah yang dicari. Ia yang memulai melempar isu itu di koran, yang kemudian menjadi bola liar di media sosial."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB
X