JOURNALNUSANTARA.COM, SUMEDANG – Para Finalis Wanoja Jajaka Budaya (Wajada) Jawa Barat 2026 mengikuti rangkaian Upacara Adat Ngabubur Suro di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, pada 24–25 Juni 2026.
Mengusung tema "Adhiwangsa Jagaddhita Nganjang ka Desa: Nyungsi Tapak Rancakalong, Ngadeuheus Adat Bubur Suro", kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya Sunda kepada generasi muda.
Melalui kegiatan tersebut, para finalis tidak hanya hadir sebagai tamu, melainkan turut belajar dan merasakan secara langsung nilai-nilai yang terkandung dalam salah satu tradisi adat tertua di Rancakalong.
"Tradisi Ngabubur Suro ini telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat," ujar Nabila Mutiara, salah satu panitia penyelenggara Pasanggiri Wajada Jabar 2026.
Ngabubur Suro merupakan tradisi yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Sunda.
Selama ratusan tahun, tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi, kebersamaan masyarakat, serta penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Menurut Tati Rohayati, seorang warga lokal sekaligus pangiring pangeyeub (panitia inti acara), sejarah tradisi ini bermula saat wilayah Rancakalong mengalami masa paceklik yang panjang.
"Para tokoh adat kemudian mengajak masyarakat mengumpulkan bahan makanan yang tersisa untuk dimasak menjadi bubur dan dibagikan kepada seluruh warga," ungkap Ibu Tati Rohayati.
Dari peristiwa tersebut, lahirlah semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi pilar utama pelaksanaan Ngabubur Suro hingga saat ini.
Selain sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, masyarakat juga memaknai tradisi ini sebagai doa bersama agar senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, dan rezeki yang melimpah.
Bagi masyarakat agraris setempat, Ngabubur Suro juga diyakini sebagai bentuk napak tilas kisah Nabi Nuh AS yang bersyukur atas keselamatan setelah peristiwa banjir besar.
Tradisi ini menjadi wujud nyata akulturasi antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Sunda yang diwariskan oleh para karuhun. Nilai spiritual, budaya, seni, dan solidaritas sosial berpadu dalam setiap rangkaian prosesinya.
Rangkaian upacara adat ini dilakukan secara bertahap dengan penuh khidmat melalui beberapa prosesi utama:
1. Pengumpulan Bahan: Mengumpulkan berbagai bahan makanan hasil bumi dari masyarakat sekitar.
2. Mesék: Proses mengupas bersama seluruh bahan makanan yang terkumpul dan akan diolah.
3. Nyiraman dan Ngisikan: Prosesi penghormatan kepada Dewi Sri (simbol kemakmuran dan kesuburan). Beras diarak dengan cara diais (digendong menggunakan kain tradisional) sambil dipayungi menuju mata air sakral untuk dicuci (ngisikan), kemudian dibawa kembali ke imah adat.
4. Ngocek: Mengaduk seluruh bahan di atas tungku tradisional hingga menjadi bubur. Bahan yang digunakan idealnya terdiri dari 1.000 jenis bahan alam (umbi-umbian, sayur, kacang-kacangan, buah, beras, hingga bunga).
Jika bahan belum mencapai jumlah tersebut, maka akan disempurnakan secara simbolis menggunakan Cau Sewu (pisang seribu).
Artikel Terkait
Dugaan Korupsi Dana Reses Dewan, Cianjur Parliament Watch Tuntut Transparansi
Hari Jadi Cianjur ke-349: Ketika Ngaos, Mamaos, dan Maenpo Menjadi Cermin Pembangunan
Menjaga Kredibilitas Hukum di Tengah Arus Spekulasi
Cianjur 349 Tahun: Merawat Warisan, Menjemput Masa Depan
Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)
Kolonel Jhonson Sitorus Pimpin Penertiban Puluhan KJA di Waduk Cirata
Sabet Dua Penghargaan di Hari Jadi Cianjur, Desa Sirnagalih Perkuat Layanan Publik
Kapolres Cianjur Siapkan Kejuaraan Voli Lebih Besar demi Jaring Atlet Nasional
PBVSI Cianjur Bakal Gandeng Atlet Nasional untuk Naikkan Level Kompetisi Voli Lokal
Hari Jadi Cianjur, Bupati Wahyu Targetkan Dongkrak IPM