Adhiwangsa Jagaddhita Nganjang ka Desa: Ngabubur Suro Rancakalong–Sumedang

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 13 Juli 2026 | 02:56 WIB
Finalis Wanoja Jajaka Budaya (Wajada) Jawa Barat 2026 mengikuti rangkaian Upacara Adat Ngabubur Suro
Finalis Wanoja Jajaka Budaya (Wajada) Jawa Barat 2026 mengikuti rangkaian Upacara Adat Ngabubur Suro

5. Disinjangan: Setelah matang, bubur dibungkus dengan daun pisang. Proses ini diibaratkan seperti mendandani seorang gadis (nyai nu geulis keur disinjang) sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat luas.

"Setiap tahapan diawali dengan doa sebagai bentuk penghormatan kepada Allah SWT sekaligus mencerminkan falsafah Sunda, 'mipit kudu amit, ngala kudu menta', yang mengajarkan bahwa setiap aktivitas harus diawali dengan memohon izin dan keberkahan," tambah Ibu Tati Rohayati.

Tradisi Ngabubur Suro juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah akulturasi budaya pada masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram, saat penanggalan Hijriah dipadukan dengan kalender Saka.

Karena dilaksanakan pada bulan Muharram sebagai awal Tahun Baru Islam, tradisi ini menjadi momentum refleksi, rasa syukur, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Kemeriahan acara ini dilengkapi dengan pertunjukan seni tradisional Tarawangsa, kesenian khas Rancakalong yang bernilai sakral. Tarawangsa dimainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap padi sebagai simbol kesejahteraan.

Dalam pertunjukannya, dimainkan lagu-lagu wajib yang bernilai sakral seperti:
1. Badud
2. Pangapungan
3. Pangaparan
4. Limbangan
5. Pamapag Panimbang
6. Reunde

Seluruh rangkaian prosesi dijalankan dengan penuh kekhidmatan. Karena Tarawangsa merupakan kesenian sakral, terdapat sejumlah pantangan yang harus dipatuhi, seperti menjaga tutur kata dan tidak bercanda secara berlebihan selama pertunjukan berlangsung.

Hingga kini, masyarakat Rancakalong bersama pemerintah daerah terus bersinergi menjaga dan mewariskan tradisi Ngabubur Suro kepada generasi muda agar tidak punah tergerus zaman.

"Keikutsertaan Finalis Wajada Jawa Barat 2026 dalam upacara adat ini menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya daerah. Kami berharap para finalis dapat menjadi duta yang aktif mempromosikan serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa," tutup Nabila Mutiara.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X