Ziarah untuk Para Wartawan yang Dibunuh dan Kisah Rumah Sakit Jiwa

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 9 Juli 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)
Ilustrasi wartawan jurnalis (Freepik)

Rudi menjadi panik sendiri. Setiap kali ada orang tak dikenal datang ke rumahnya, ia langsung menduga ini skenario yang bisa berujung pada pembunuhannya.

Sebagian teman dan keluarga merasa Rudi sudah paranoid. Ia sudah berilusi, berhalusinasi sendiri. Tapi Rudi merasa tak lagi bisa berlagak situasi baik-baik saja.

Rudi pun menghilang ke luar kota. Dalam perjalanannya, ia ziarah ke berbagai makam sesama wartawan. Antara lain, Rudi mengunjungi Slamet Jabarudi yang mewartakan Sum Kuning (tahun 1970an).

Rudi juga mengunjungi makam wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin), dan beberapa
makam wartawan lainnya.

Slamet Jabarudi terkenal untuk kasus Sum Kuning yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 1970. Sum Kuning, seorang gadis penjual telur, diperkosa oleh sekelompok pemuda yang diduga anak-anak pejabat tinggi.

Sum Kuning yang mengaku sebagai korban pemerkosaan, justru dijadikan tersangka. Ia dituduh menyebarkan berita bohong. Bahkan ia dikait- kaitkan dengan PKI, komunisme, yang ia tak paham.

Peran wartawan dalam mengungkap kebenaran kasus ini sangat signifikan. Wartawan menginvestigasi dan mengungkap banyak kejanggalan dalam penyelidikan polisi, termasuk dugaan rekayasa kasus untuk melindungi pelaku yang memiliki koneksi kuat.

Liputan pers yang kritis dan mendalam membantu membongkar manipulasi dalam kasus ini. Keadilan penuh bagi Sum Kuning tetap menjadi pertanyaan hingga kini.

Wartawan Slamet Jabarudi, mengungkapkan versi berbeda untuk kasus pemerkosaan Sum Kuning. Ia ditahan karena tulisannya di koran.

Kasus yang lain menimpa wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin). Pada tahun 1996 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah kebebasan pers di Indonesia.

Udin seorang wartawan di Harian Bernas, Yogyakarta. Ia dikenal kritis terhadap pemerintah dan sering menulis artikel tentang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat setempat.

Pada tanggal 13 Agustus 1996, Udin ditemukan dalam kondisi kritis di rumahnya setelah mengalami penganiayaan berat. Ia menderita luka serius di kepala dan akhirnya meninggal dunia pada 16 Agustus 1996.

Kasus ini diduga kuat terkait dengan tulisan-tulisannya yang kritis, terutama yang mengungkapkan skandal korupsi pejabat lokal.

Penyelidikan polisi terhadap kasus ini banyak mendapat kritik karena dianggap tidak transparan dan tidak efektif.

Beberapa pihak mencurigai penyelidikan sengaja diarahkan untuk melindungi pihak-pihak yang terlibat dalam kekerasan terhadap Udin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X