Allah SWT. mengingatkan dengan tegas:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”
(QS. Al-An‘ām: 116)
Ayat ini membongkar realitas paling pahit; Bahwa mayoritas tak selalu menuju cahaya.Bahwa jumlah tak selalu menjamin kebenaran.
Dan bahwa jalan sunyi, yang penuh pertimbangan, kejujuran, dan keimanan, kadang memang tidak ramai, bahkan sepi.
Maka jangan heran…Jika menjadi orang yang berpikir sendiri, kau dianggap arogan.Jika menjaga prinsip, kau dituduh fanatik.
Jika berkata “tidak” pada yang keliru, kau dibenci, dijauhi, bahkan difitnah.
Tapi apakah kebenaran harus ditukar demi rasa aman sosial?
Apakah prinsip harus dikorbankan demi persahabatan semu?
Nabi SAWZ pernah bersabda:
مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ، وَكَلَهُ اللهُ إِلَي النَّاسِ، وَمَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ، كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ
“Barangsiapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia. Dan barangsiapa mencari ridha Allah meski membuat manusia murka, maka Allah akan mencukupinya dari beban manusia.”(HR. Tirmidzi, no. 2414)
Inilah pelajaran agung, Bahwa keberanian untuk berbeda demi kebenaran adalah bentuk tertinggi dari integritas spiritual.
*Serba Salah dalam Lembah Perasaan dan Persaudaraan*
Serba salah bukan hanya soal ketidaktegasan, tetapi karena terlalu banyak pertimbangan:
perasaan orang tua,ikatan darah yang tak ingin rusak,sahabat lama yang rapuh jika dibantah,atau sekadar menjaga suasana agar tidak meledak.
Di titik ini, kita seolah berdiri di ujung tebing. Jika melompat, kita takut jatuh. Jika mundur, kita takut kehilangan kepercayaan. Jika bertahan, kita bisa tercabik dalam diam.
*Inilah wajah sunyi dari orang serba salah*
jiwa-jiwa yang peka, yang berpikir sebelum bertindak,dan seringkali terlalu memikirkan orang lain hingga lupa bernapas untuk dirinya sendiri.
Allah SWT. telah mengingatkan bahwa bahkan Rasulullah SAW. pun tidak dapat menyenangkan semua orang:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ. لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ﴾
"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka."
(QS. Al-Ghasyiyah: 21–22)
Artikel Terkait
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini
Mutiara Pagi: Jejak Tak Terhapus (Bagian 1911)
Mutiara Pagi: Menolak Pamrih (Bagian 1912)
Bahayanya Ambisi Kekuasaan Mantan Para Penguasa
Ketum Dekopin Minta Jabar Segera Gelar Muswil
Kang Lepi Kenang Almarhum Pak TMS Sebagai Pemimpin Hebat dan Visioner
Revisi KUHAP Harus Komprehensif (Bagian 1)
Kalimantan Memanggil, Strategi Revolusioner Transmigrasi Berkeadilan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Mutiara Pagi: Kita adalah Pelangi (Bagian 1913)
Sibuk Merawat Fisik, Namun Jiwa Sekarat