Bahayanya Ambisi Kekuasaan Mantan Para Penguasa

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 25 Juli 2025 | 11:03 WIB
Jokowi SBY
Jokowi SBY


Oleh: Agung Wibawanto

Militer Thailand pada Kamis (24/7/2025) melancarkan serangan udara terhadap posisi pasukan Kamboja sebagai respons atas serangan sistem peluncur roket BM-21 Grad dalam bentrokan di perbatasan baru-baru ini.

Saya memang bukan pengamat luar negeri, dan atau tidak juga terlalu mengikuti berita bersitegangnya dua negata Thailand dan Kamboja. Namun dalam pandangan saya pribadi, ini tidak semata soal wilayah perbatasan.

Sengketa perbatasan dimulai pada Juni 2008 terkait soal Kuil Preah Vihear yang terletak antara distrik Kantharalak di provinsi Sisaket dan distrik Choam Khsant di provinsi Preah Vihear. Thailand mengklaim demarkasi belum selesai untuk wilayah luar kuil.

Di balik kisah itu, ada juga perseteruan antara para mantan penguasa yang masih punya ambisi berkuasa. Hun Sen yang sempat memimpin Kamboja selama puluhan tahun masih memiliki pengaruh dalam politik negara yang kini dikuasai puteranya, Hun Manet.

Sedangkan di Thailand, mantan PM Thaksin Shinawatra juga masih memiliki kekuasaan dalam pemerintahan menyebabkan pelantikan PM plt Paetingtarn Shinawatra ditunda. Dikabarkan perseteruan diawali justru oleh Hun Sen dan Thaksin sendiri.

Mereka para mantan penguasa yang sama-sama masih punya ambisi berkuasa, bisa menyebabkan peperangan antara dua negara. Thailand mengalami krisis politik sementara Kamboja mengalami krisis pangan.

Kedua negara juga sama-sama membutuhkan pengalihan isu nasionalisme guna menutupi persoalan di negaranya yang sesungguhnya. Ini kan di luar nalar namanya hanya karena hasrat berkuasa yang tidak pernah padam.

Bayangkan saja jika pemerintah Indonesia yang kini dikuasai dua orang ambisius (Prabowo dan Jokowi) yang kini tengah disorot negatif oleh publik karena banyak persoalan. Bagaimana jika kemudian mereka membuat pengalihan isu nasionalisme?

Cari perkara dengan negara lain, Malaysia, misalnya. Tujuannya agar rakyat Indonesia bersatu melawan Malaysia. Jadi musuhnya bukan pemerintah Indonesia lagi. Perhatian publik teralihkan melalui sentimen kebangsaan. Bahaya kan?

Perseteruan Thailand-Kamboja terlepas siapa yang memulai dan siapa yang benar. Hal tersebut bukanlah pilihan terbaik, karena yang menderita tetap rakyat masing-masing negara. Yang pasti menjadi PR PM Malaysia yang menjadi Ketua Asean 2025 sekarang ini.

Sementara itu yang katanya Macan Asia belum mengeluarkan statemen satu kata pun. Apalagi wakil presidennya. Saya penasaran apa kira-kira pendapatnya untuk mengatasi perang Thailand dan Kamboja? (Semoga ada solusi terbaik).

Artikel Selanjutnya

Apakah Ormas Bisa Diperbaiki?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X