Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, Ormas pernah lahir dari denyut nurani rakyat tumbuh dari luka, hidup dari harapan. Bukan alat kekuasaan, melainkan gema kemerdekaan.
Bukan kendaraan rente, tapi penjaga nalar dan kepedulian. Ia hadir untuk menguatkan masyarakat, bukan menindihnya; menyalakan solidaritas, bukan menumpuk kekuasaan.
Namun kini, banyak ormas kehilangan ruh.
Di ranah politik, mereka tak lagi menjaga jarak, tapi berebut panggung. Menjelma pseudo orpol organisasi sipil yang berlagak partai.
Mengaku relawan, tapi lapar jabatan. Bukan penyeimbang negara, melainkan penyokong elite. Kemandirian digadaikan demi kedekatan suara rakyat ditukar patronase.
Di bidang ekonomi, mereka kerap mengganggu dunia usaha memalak pengusaha atas nama rakyat, menjadikan tekanan sosial sebagai alat tawar.
Mereka terjun ke tambang tanpa peduli kerusakan ekologis. Tak ada komitmen pada ekonomi inovatif yang berkeberlanjutan.
Yang disokong justru ekonomi ekstraktif yang menggerus sumber daya. Mereka lebih setia pada kekuasaan ketimbang pemberdayaan membela pemodal kuat, bukan yang lemah.
Dalam kehidupan sosial, sebagian ormas menjelma pangkal gaduh. Menyulut tawuran, intoleransi, dan intimidasi.
Mereka berebut wilayah pengaruh dan kavling jarahan menekan warga, memaksakan kehendak atas nama identitas kelompok.
Di tengah masyarakat yang rindu keteduhan, mereka menabur ketakutan.
Maka, kita pun bertanya:
Masih mungkinkah ormas diperbaiki? Atau sudah terlalu jauh menyimpang dari akar idealismenya?
Yang dibutuhkan bukan pembubaran, melainkan pembaruan. Ormas harus kembali menjadi ruang sukarela yang mencerahkan bukan mesin rente.
Penjaga kewarasan nalar publik, bukan pengeruh opini. Pelindung warga, bukan pengancam dan perpanjangan kuasa.
Artikel Terkait
Mbah Batako
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Bersinergi dengan Warga Desa Sukakerta melalui Kegiatan Keagamaan
Bisakah Politik Diluruskan?
Menjalankan Amanah, Cermin Kejujuran dan Tanggung Jawab
Menikmati Keindahan Alam di Puncak, Ketenangan yang Menyegarkan Jiwa
Menyeimbangkan Kewajiban dan Hak, Kunci Kehidupan yang Adil dan Harmonis
Mutiara Pagi: Ada Satu Kata: Ibu (Bagian 1908)
Mutiara Pagi: Selfie (Bagian 1909)
Mengaku Partai Terbuka dan Modern Tapi Feodal dan Penganut Primordialisme
Pengetahuan Tradisional Indonesia: Warisan yang Perlu Dilindungi dalam Kerangka HAKI