Oleh: Agung Wibawanto
Dulu di awal (2014) saya sempat tertarik dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sebagai orang berlatar belakang pendidikan sosial politik, saya senang mempelajari terutama dengan lahirnya alternatif partai baru yang mungkin agak berbeda dengan partai lainnya.
Sedikit sama dengan PRD (Partai Rakyat Demokrat) sebenarnya namun berbeda dengan latar belakang perjuangan dan sejarahnya. PRD dan PSI sama-sama lahir dari rasa tidak puas (terutama kaum mudanya) terhadap tatanan sosial-politik bangsa. Mereka juga sama menyasar segmen anak muda sebagai basis suara.
Meski PRD masih eksis namun kader handalnya sudah bercerai-berai. PRD juga sama dengan PSI dianggap sebagai partai kecil yang suaranya tidak tembus ke Senayan. Jika PRD secara tegas beraliran Sosialis Demokrat, sementara PSI memiliki aliran yang lebih terbuka. Hal ini dikarenakan berbeda sejarah pendiriannya.
Jika PRD didirikan dengan perjuangan anak-anak muda mantan aktivis 90 an nan melelahkan, PSI cenderung praktis lebih cepat dan nyaris tanpa masalah karena didirikan oleh kalangan muda yang lebih mapan (Jeffrie Geovanie dkk). Pertanyaannya, akankah PSI bernasib sama seperti PRD, hanya sebagai partai penggembira saja?
Saya berpikir tidak karena berbeda. PRD berjalan kukuh dengan idealisme yang sebagai partai kaum kecil (rakyat jelata, buruh, tani, nelayan). Hanya personal kadernya saja yang sudah berubah mencari peluang dan kesempatan untuk menaikan karir politiknya. Sedangkan PSI lebih memilih strategi politik yang pragmatis hingga kini bahkan menjadi fatalistik.
PSI berani mengubah semuanya bahkan mungkin harga dirinya demi kekuasaan. Banyak kader PSI yang kritis kini mulai keluar karena dianggap sudah tidak sehat. Tidak ada dalam sejarah ilmu politik yang merujuk sebuah partai modern tapi memilih jalan dengan semangat feodal dan paham primordialisme.
Ya hanya PSI satu-satunya. Mereka membanggakan diri sebagai partai terbuka bahkan untuk pemilihan ketua umumnya pun melalui voting anggota. Hanya orang yang naif jika percaya pemilihan ketua umum pada sebuah partai tidak menggunakan rekayasa. Terlebih memakai sistem e-voting. Siapa yang tahu apa yang terjadi dibalik meja operator.
Dan belum lagi, sebelum pemilihan, ada mobilisasi agar memilih calon tertentu. Ya, pemilihan dikondisikan agar Kaesang terpilih sebagai ketua umum, no debat. Mengapa Kaesang? Karena ia anak Jokowi yang bagi PSI sudah dianggap sebagai berhala ataupun dewa. Hal ini pun sudah diceritakan langsung oleh Jeffrie Geovanie, ketua Dewan Pembina PSI.
"Karena kita harus percaya partai kalau didirikan kemudian suaranya menurun, itu kita harus mengambil kesimpulan bahwa publik masyarakat nggak percaya kepada kita. Jadi Bro Raja Juli Antoni, Saiful Haq, Endang Tirtana, Grace, kalau kalian nggak dapat sedikit pun darahnya keluarganya Pak Jokowi atau Pak Jokowi sendiri kita tutup partai ini," ucap dia.
Jeffrie pun mengungkap saat itu mereka diberi waktu hingga 2024 untuk mengupayakan segala cara agar Jokowi atau keluarganya bergabung. Ia menyebutkan, pada 2023, PSI hanya memiliki suara di bawah 0,5 persen.
"Saya berikan waktu selambat-lambatnya tahun 2023 ini. Dan 2024 kita enggak usah keluar biaya apa pun untuk pemilu, kita terima nasib saja," sambungnya. Karena itulah, Jeffrie pun akhirnya meminta jajarannya berupaya keras merayu Jokowi. Ia bahkan meminta Grace Natalie menangis di depan Jokowi.
"Bayangkan waktu kita begitu pendek dan kita cuma punya nol koma. Jadi tidak ada pilihan ketika itu, dengan cara apapun, kalau perlu saya bilang kepada Grace 'nangis sekencang-kencangnya saat ketemu Pak Jokowi, apalagi partai ini didirikan karena kecintaan kita kepada dia, nangislah Grace' saya bilang," jelasnya.
Ia juga menyebutkan Raja Juli Antoni juga sempat frustrasi dengan arahan menggaet keluarga Jokowi. Ia bercerita Raja Juli setengah menangis setiap menceritakan perkembangan upayanya mendekat Jokowi dan keluarganya.
"Untungnya berkat kegigihan Raja Juli Antoni, Grace, Syaiful Haq, Endang Tirtana, Isyana Bagus Oka, kasihan juga Pak Jokowi kepada kita. Walaupun kemudian kita mengalami penderitaan batin yang cukup panjang, dari Maret 2023 kita diberikan harapan setengah palsu oleh Mas Kaesang."
Artikel Terkait
Mbah Batako
Apakah Indonesia Bisa Diperbaiki?
Mutiara Pagi: Tangan Ibu (Bagian 1907)
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Bersinergi dengan Warga Desa Sukakerta melalui Kegiatan Keagamaan
Bisakah Politik Diluruskan?
Menjalankan Amanah, Cermin Kejujuran dan Tanggung Jawab
Menikmati Keindahan Alam di Puncak, Ketenangan yang Menyegarkan Jiwa
Menyeimbangkan Kewajiban dan Hak, Kunci Kehidupan yang Adil dan Harmonis
Mutiara Pagi: Ada Satu Kata: Ibu (Bagian 1908)
Mutiara Pagi: Selfie (Bagian 1909)