Di sebuah desa, tinggal nelayan tua
Ia rawat tangis, yang belum punya nama
Dibesarkannya dengan penuh cinta
Ia tak cari tepuk tangan,
tak undang wartawan
Sebab dalam jiwanya,
kasih adalah keheningan
Bukan iklan,
atau panggung kemenangan
Ia titipkan hidupnya pada rahmat,
melalui tangannya yang basah,
namun lembut penuh doa
Dengan harapan: suatu saat nanti
cahaya kecil itu akan bisa menyinari
Tahun demi tahun berjalan pelan,
dalam diam, dalam syukur,
dalam kerendahatian
Dan saat ini,
di tanah sendiri, cinta itu kembali,
dalam wujud yang tak disangka
Dengan mata bersinar,
anak itu berdiri di hadapan dunia:
“Tak ingat saat aku diremehkan,” katanya pelan
“Yang kutahu, hanyalah diam tidak melawan .”
Lalu ia buka tabir cinta,
yang dibalas dengan rahmat-Nya
Tak ada piala yang bisa mengukurnya,
tak ada medali yang bisa menandinginya
Karena dalam setiap langkah hidup yang berarti,
ada jejak Tuhan yang selalu membisikkan:
“Arti manusia terletak pada apa yang dilakukan.”
Malang, 24 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mengaku Partai Terbuka dan Modern Tapi Feodal dan Penganut Primordialisme
Pengetahuan Tradisional Indonesia: Warisan yang Perlu Dilindungi dalam Kerangka HAKI
Apakah Ormas Bisa Diperbaiki?
Istiqomah dalam Perjuangan, Kunci yang Tak Terlihat
Menjaga Diri di Zaman Penuh Godaan
Saat Maksiat Mengundang Petaka
Melawan Kemalasan, Memenangkan Hari
Mutiara Pagi: Seperti Bunga Plastik (Bagian 1910)
Kolaborasi Mahasiswa KKN Al-Azhary dengan KUA Campaka, Siap Galakkan Program Pendidikan Keluarga Sakinah
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini