Journalnusantara.com - Di tengah dunia yang semakin terbuka, menjaga diri dari maksiat menjadi tantangan nyata.
Godaan datang bukan hanya lewat perbuatan, tapi juga dari pandangan, pikiran, dan genggaman tangan.
Maksiat bisa tampak sepele, tapi perlahan mengikis hati tanpa disadari.
Langkah pertama untuk menjauh darinya adalah mengenali apa yang mendekatkan kita pada dosa.
Teman, tontonan, waktu luang yang tidak dijaga—semua bisa jadi celah.
Menjaga diri bukan berarti menjadi sempurna, tapi sadar saat mulai melenceng.
Beristighfar setiap hari bukan tanda kita suci, tapi bukti kita masih peduli.
Hati yang bersih bukan tanpa cela, tapi cepat kembali saat tergelincir.
Jauh dari maksiat bukan hanya soal menahan diri, tapi juga mengganti kebiasaan dengan yang baik.
Isi waktu dengan hal-hal yang menenangkan jiwa: belajar, berdzikir, membaca, berbuat baik.
Lingkungan yang baik adalah pagar yang kuat. Pilih teman yang mengingatkan, bukan menjerumuskan.
Jangan tunggu iman kuat dulu baru menjauh dari dosa. Justru dengan menjauh, iman perlahan menguat.
Setiap kita pasti pernah salah, tapi jangan biarkan diri nyaman dalam kesalahan.
Allah Maha Pengampun, tapi tanggung jawab kita adalah terus berusaha.
Artikel Terkait
Mbah Batako
Bisakah Politik Diluruskan?
Menjalankan Amanah, Cermin Kejujuran dan Tanggung Jawab
Menikmati Keindahan Alam di Puncak, Ketenangan yang Menyegarkan Jiwa
Menyeimbangkan Kewajiban dan Hak, Kunci Kehidupan yang Adil dan Harmonis
Mutiara Pagi: Ada Satu Kata: Ibu (Bagian 1908)
Mutiara Pagi: Selfie (Bagian 1909)
Mengaku Partai Terbuka dan Modern Tapi Feodal dan Penganut Primordialisme
Pengetahuan Tradisional Indonesia: Warisan yang Perlu Dilindungi dalam Kerangka HAKI
Apakah Ormas Bisa Diperbaiki?