Tangan memberi,
namun hati menolak pamrih
Kebaikan, begitu sunyi dan bening,
mengalirkan hidup perlahan-lahan,
ke ladang-ladang yang mulai kering
Bukan sosok yang layak dipuja,
melainkan cahaya yang diam di dada
Sebab secepat apa pun kita berlari di dunia,
takkan berarti apa-apa,
jika tak tahu siapa yang layak dijaga
Itulah kebaikan yang sejati,
meniti jalan sunyi,
namun abadi dalam ingatan
Seperti doa seorang ibu:
tak terlihat oleh mata,
tapi diam-diam menguatkan kehidupan
Ia tak butuh dipandang rupa,
tak ingin disebut oleh nama
Namun diam-diam menumbuhkan makna,
yang tetap hidup,
di dalam relung kalbu kita
Ia tumbuh dari akar keikhlasan,
tak gentar meski tak ada yang menyaksikan
kecuali langit yang diam,
nurani yang bening,
dan Pencipta semesta yang tak pernah alpa
Jika suatu saat langkah terasa lelah,
dan dunia seakan enggan membalas,
ingatlah:
bahkan laut pun bisa surut,
meski sungai terus mengalir dengan ikhlas
Malang, 25 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Pengetahuan Tradisional Indonesia: Warisan yang Perlu Dilindungi dalam Kerangka HAKI
Apakah Ormas Bisa Diperbaiki?
Istiqomah dalam Perjuangan, Kunci yang Tak Terlihat
Menjaga Diri di Zaman Penuh Godaan
Saat Maksiat Mengundang Petaka
Melawan Kemalasan, Memenangkan Hari
Mutiara Pagi: Seperti Bunga Plastik (Bagian 1910)
Kolaborasi Mahasiswa KKN Al-Azhary dengan KUA Campaka, Siap Galakkan Program Pendidikan Keluarga Sakinah
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini
Mutiara Pagi: Jejak Tak Terhapus (Bagian 1911)