Oleh: Munawir Kamaluddin
Ada ungkapan yang mengatakan “Serba salah menjadi Orang Susah, Tapi Lebih Susah menjadi Orang Serba Salah.”
Pernahkah engkau merasa menjadi diri sendiri pun serba salah?
Berjalan terlalu cepat, kau dituduh meninggalkan. Diam terlalu lama, kau dianggap tak peduli. Berbicara apa adanya, mereka bilang tak tahu adab.Menjaga tutur, mereka bilang kau menyembunyikan sesuatu.
Apakah salah bila ingin dipahami?
Apakah keliru bila mencoba menyeimbangkan semua rasa?
Di tengah dunia yang terus menuntut, kadang kita kehilangan arah bukan karena tak tahu tujuan, tetapi karena terlalu banyak suara yang menarik kita ke arah berbeda
dan semua berharap kita menyenangkan mereka.
Lalu, siapa yang akan menyenangkan kita?
Pernahkah kau merasa harus mengiyakan sesuatu yang kau tahu salah, hanya karena semua orang melakukannya?
Pernahkah kau diam, padahal hatimu menolak, hanya karena takut dicemooh sebagai berbeda?
Berapa kali kita menertawakan yang benar demi dianggap seru dalam pergaulan?
Dan berapa banyak pilihan hidup yang kita ambil bukan karena benar, tapi karena takut tak disukai?
Mengapa dalam dunia yang katanya menghargai keberagaman, justru kita sering dipaksa seragam?
Mengapa suara mayoritas kerap menjadi patokan benar dan salah, padahal kebenaran tak pernah bergantung pada jumlah?
Di tengah realitas sosial yang penuh tekanan, kita hidup dalam budaya 'asal ramai', ‘asal viral',
'asal diterima'. Namun… benarkah arah keramaian selalu menuju kebenaran?
Artikel Terkait
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini
Mutiara Pagi: Jejak Tak Terhapus (Bagian 1911)
Mutiara Pagi: Menolak Pamrih (Bagian 1912)
Bahayanya Ambisi Kekuasaan Mantan Para Penguasa
Ketum Dekopin Minta Jabar Segera Gelar Muswil
Kang Lepi Kenang Almarhum Pak TMS Sebagai Pemimpin Hebat dan Visioner
Revisi KUHAP Harus Komprehensif (Bagian 1)
Kalimantan Memanggil, Strategi Revolusioner Transmigrasi Berkeadilan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Mutiara Pagi: Kita adalah Pelangi (Bagian 1913)
Sibuk Merawat Fisik, Namun Jiwa Sekarat