Di jalan-jalan kota
Kulihat manusia berjalan,
dengan wajah yang hilang
Waktu berlari,
kita pun dipaksa mengikuti
Mengejar angka-angka,
yang tak pernah sempurna
Budaya grind, kata mereka
Kerja tanpa henti,
kerja sampai lupa rasa
Kerja sampai lupa,
bahwa di ujung sana ada sepi
Butuh cinta, jeda, dan doa
Kudengar napas kota,
seperti doa
Tercekik oleh kesibukan manusia
Semua mengukur waktu
dengan angka
Padahal Tuhan tak pernah terburu-buru
Saat menumbuhkan bunga
Saat menyembuhkan luka
Bukankah kita hanya singgah
Yang tersisa bukan tumpukan uang,
melainkan tumpukan amal
Serta senyum orang-orang,
yang kita bahagiakan di jalan-jalan
Kesibukan menjadikan kita asing
Di meja makan rumah sendiri
Ayah bicara target,
ibu ke supermarket,
dan anak sibuk mainan gadget
Kemudian sibuk di layar
Menghitung untung yang besar
Lupa bahwa waktu
Akan meninggalkannya tanpa sapa
Berpikir hidup ini lomba
Padahal perjalanan pulang,
kembali ke Sang Pencipta
Marilah berhenti sejenak
Memeluk diri sendiri
Mendengar bisikan kasih,
dari orang-orang yang kita cintai:
apalah arti kerja tanpa cinta?
apalah arti hidup tanpa tawa?
Kita bukan budak angka
Kita adalah pelangi
Yang lahir dari lazuardi
Untuk memberi warna
Agar hidup bisa bermakna
Tbn, 26 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Melawan Kemalasan, Memenangkan Hari
Kolaborasi Mahasiswa KKN Al-Azhary dengan KUA Campaka, Siap Galakkan Program Pendidikan Keluarga Sakinah
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini
Mutiara Pagi: Jejak Tak Terhapus (Bagian 1911)
Mutiara Pagi: Menolak Pamrih (Bagian 1912)
Bahayanya Ambisi Kekuasaan Mantan Para Penguasa
Ketum Dekopin Minta Jabar Segera Gelar Muswil
Kang Lepi Kenang Almarhum Pak TMS Sebagai Pemimpin Hebat dan Visioner
Revisi KUHAP Harus Komprehensif (Bagian 1)
Kalimantan Memanggil, Strategi Revolusioner Transmigrasi Berkeadilan untuk Masa Depan Berkelanjutan