Oleh: Munawir Kamaluddin
Fenomena derasnya arus zaman, di tengah gelombang pertentangan yang tak henti-hentinya menghantam sendi kehidupan, lahirlah sosok yang menghadirkan kesejukan di tengah panasnya perdebatan dan perbedaan.
Bagai embun yang menetes perlahan di padang gersang, ia datang membawa pesan damai, menyulam harmoni di antara perbedaan, dan merajut kasih sayang dalam setiap helaan napas perjuangannya.
Dialah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, seorang ulama yang tak hanya memahami Islam dalam teks, tetapi menghidupkannya dalam realitas konkrit.
Ia terlahir di tanah Bugis, di bawah langit Sulawesi yang memancarkan semangat perjuangan, ia tumbuh dalam pelukan ilmu dan adab. Sejak belia, ia telah meniti jalan panjang, menapaki tangga-tangga hikmah dengan penuh keikhlasan dan ketekunan.
Menurutnya, Islam bukan sekadar ajaran yang dihafal, bukan sekadar hukum yang diterapkan dengan kaku, tetapi cahaya yang menerangi akal, jiwa dan hati.
Baginya ,membaca Al-Qur’an bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hatinya yang penuh cinta. Ia menghafal hadits bukan hanya dengan ingatan, tetapi dengan amal dan tindakan.
Kesungguhannya dalam mendalami agama membawanya menyusuri lorong-lorong ilmu dari pelosok pesantren hingga puncak akademik di berbagai penjuru dunia.
Dari Pesantren As’adiyah Sengkang, tempat ia pertama kali merasakan manisnya ilmu, hingga universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika, ia terus menggali pemahaman yang lebih dalam tentang Islam dan berbagai agama-agama lain.
Dalam pemahannya bahwa Islam bukan agama yang eksklusif, bukan ajaran yang menutup diri dari peradaban lain, tetapi agama yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Menurutnya , Islam adalah lentera yang menuntun manusia menuju kebaikan dengan kelembutan, bukan dengan pemaksaan kehendak.
Beliau menolak dakwah yang penuh amarah, menepis fatwa-fatwa yang lahir dari kebencian, dan menentang ajaran yang menghalalkan permusuhan. Seperti Rasulullah SAW. yang selalu mengulurkan tangan persahabatan bahkan kepada mereka yang memusuhinya, Nasaruddin Umar menghadirkan wajah Islam yang penuh kasih sayang dan kelemah lembutan.
Dalam situasi dunia yang semakin terpecah oleh sekat-sekat perbedaan, ia hadir sebagai jembatan. Ia menyatukan yang tercerai, mempertemukan yang berselisih, dan mendamaikan konflik yang berbenturan.
Dalam posisinya sebagai ulama yang teguh dalam prinsip wasathiyah (moderasi), ia mengajarkan bahwa Islam bukan tentang siapa yang paling keras berteriak, tetapi tentang siapa yang paling tulus mengasihi dan menyayangi.