Konflik Israel-Iran: Antara Strategi Militer dan Perang Politik di Timur Tengah

photo author
Fauji Rohmat, Journal Nusantara
- Jumat, 27 Juni 2025 | 15:24 WIB

Journalnusantara.com, Konflik Israel-Iran memasuki fase eskalasi serius sejak Juni 2025, dengan serangan udara Israel yang menargetkan fasilitas nuklir dan markas militer Iran di beberapa kota, termasuk Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang belakangan ini menelan ratusan korban jiwa serta mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah. Respon tegas dan seruan untuk menahan diri disampaikan oleh sejumlah pejabat tinggi PBB dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan yang digelar pada Jumat (13/6) di Markas Besar PBB, New York, menyusul serangan udara besar-besaran Israel ke wilayah Iran.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi dalam pertemuan tersebut menyoroti dampak serius dari serangan Israel terhadap fasilitas nuklir utama Iran di Natanz. Ia mengungkapkan bahwa fasilitas pengayaan uranium di Natanz mengalami kerusakan berat, dengan adanya kontaminasi radiologis dan kimiawi.

“Saya telah berulang kali menyatakan bahwa fasilitas nuklir, dalam keadaan apa pun, tidak boleh menjadi target serangan. Serangan semacam ini tidak hanya membahayakan manusia, tetapi juga lingkungan,” ujar Grossi dikutip dari Al Jazeera.

Meskipun kontaminasi dinilai masih dapat dikendalikan dengan langkah-langkah yang tepat, Grossi menyatakan kesiapan IAEA untuk mengirim tim keamanan nuklir guna membantu pengamanan lokasi jika diminta oleh Iran. Ia juga menyerukan semua pihak untuk menunjukkan "penahanan maksimal" guna menghindari eskalasi lebih lanjut.

Serangan ini telah menimbulkan korban jiwa besar, dengan laporan korban tewas di Iran mencapai lebih dari 224 orang termasuk pejabat militer dan ilmuwan nuklir, sementara di Israel sedikitnya 24 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Israel mengklaim serangan tersebut sebagai langkah "penyelamatan nasional" untuk mencegah Iran memproduksi bom nuklir yang dianggap sebagai ancaman eksistensial.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik dan menyerukan penghentian kekerasan serta kembalinya kedua pihak ke meja perundingan. Namun, Dewan Keamanan PBB belum mengeluarkan resolusi resmi terkait konflik ini.

Puluhan negara, termasuk Indonesia bersama 23 negara lain, mengecam serangan Israel ke Iran melalui pernyataan bersama yang diinisiasi oleh Mesir.

Kementerian Luar Negeri membagikan sikap pemerintah tersebut melalui dokumen yang dibagikan di portal resmi kementerian pada Kamis pagi, 19 Juni 2025. Pernyataan tersebut mempertebal keterangan yang disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono yang menyayangkan serangan yang dilakukan oleh Israel tersebut.

Pernyataan bersama 23 negara termasuk Malaysia, Arab Saudi, hingga Turki menyatakan penolakan dan kutukan tegas atas serangan Israel ke Iran. “Penting menghormati kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara, mematuhi prinsip-prinsip bertetangga yang baik, dan penyelesaian sengketa secara damai,” tulis keterangan tersebut.

Konflik berpotensi meluas dan menyeret negara lain, terutama Amerika Serikat yang selama ini mendukung Israel. Iran menuduh AS memberikan dukungan diam-diam kepada Israel, sementara AS telah memperingatkan Iran tentang konsekuensi jika menyerang target-target Amerika di wilayah Timur Tengah.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang, meskipun serangan Israel justru mengkonsolidasikan dukungan masyarakat Iran terhadap pemerintahnya.

Pengamat politik menilai konflik ini tidak hanya soal militer, tetapi juga melibatkan pertarungan ideologi dan pengaruh politik di kawasan, dengan Iran memposisikan diri sebagai pendukung perjuangan Palestina dan Israel menganggap Palestina sebagai ancaman keamanan.

Artikel opini ini dibuat untuk memenuhi sebagian syarat tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan Dosen Pengampu : Mawardi Nurullah S.Pd., M.Pd.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fauji Rohmat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X