Joseph Schumpeter (ekonom Austria-Amerika):
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang memungkinkan rakyat memilih pemimpin melalui proses pemilihan yang bebas dan adil.
Robert Dahl (ilmuwan politik Amerika):
Demokrasi memiliki ciri-ciri seperti partisipasi politik yang luas, pemilihan umum yang bebas dan adil, serta perlindungan hak-hak individu.
Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Demokrasi di Indonesia telah mengalami beberapa fase penting:
Demokrasi Parlementer (1945–1959)
Kekuasaan berada di tangan rakyat melalui wakil-wakilnya di parlemen.
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Presiden Soekarno menerapkan sistem demokrasi terpusat, dengan prinsip gotong royong sebagai dasar utama.
Demokrasi Pancasila (1966–1998)
Pada masa Orde Baru, demokrasi ditekankan pada musyawarah mufakat dengan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan utama.
Demokrasi Pasca-Reformasi (1998–sekarang)
Sistem menjadi lebih terbuka dan partisipatif, ditandai dengan pemilu yang bebas, jujur, dan adil.
Konsepsi Demokrasi Tokoh Nasional
Soekarno: Menginginkan demokrasi berbasis nilai-nilai kemasyarakatan dan ekonomi.
Moh. Hatta: Menekankan pentingnya kebersamaan dan kekeluargaan dalam demokrasi.
Soetan Sjahrir: Mendorong demokrasi partisipatif yang menghargai kebebasan individu.
Pengertian dan Tujuan Partisipasi Publik
Partisipasi publik adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan publik—melalui saran, pendapat, atau kontribusi langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan pemerintah.
Tujuan partisipasi publik:
Artikel Terkait
Benteng Pendem Garut: Di Tengah Bangkai Sejarah yang Terlupakan
Mengenal Lebih Dekat MTs Atsauri: Sekolah Berbasis Karakter dan Nilai Keagamaan
Gubernur Jawa Timur Hadiri Sejumlah Agenda Strategis di Malang dan Surabaya
Mutiara Pagi: Asal Kau Mengerti (Bagian 1855)
Agama dan Strategi Pembangunan: Dialog Dai Tata Sukayat dengan Profesor Sejarah AS
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU MTS AL IKHWAN CIHEA 2025/2026: WUJUDKAN GENERASI UNGGUL BERAKHLAK MULIA
Santri dan Korupsi
Mutiara Pagi: Era Penampilan (Bagian 1856)
Sukmaji, Pensiunan PNS yang Menjerit Karena Diduga Jadi Korban Penipuan Kredit Fiktif
Mutiara Pagi: Kritik Boleh (Bagian 1857)