Oleh: MJ. Wijaya
Sejarah adalah tubuh, dan situs-situs purba adalah tulangnya. Tapi apa jadinya jika tulang-tulang itu dibiarkan lapuk di tengah semak belukar, ditinggalkan oleh mereka yang mengaku menjunjung warisan leluhur? Itulah tragedi yang membungkus Benteng Pendem di Garut, sebuah tapak kolonial yang kini berubah menjadi kuburan sejarah—sunyi, rapuh, dan diabaikan.
Benteng Pendem, yang terletak di wilayah Cimanganten, Garut Selatan, sejatinya merupakan peninggalan militer kolonial Belanda. Dibangun sekitar akhir abad ke-19, benteng ini berdiri dalam kerangka strategi pertahanan kolonial terhadap perlawanan lokal dan dinamika geopolitik Hindia Belanda.
Arsitektur bawah tanahnya yang khas menunjukkan fungsi sebagai bunker atau tempat persembunyian pasukan. Namun kini, situs ini tak lebih dari reruntuhan tak terurus yang tenggelam dalam lumpur ketidaktahuan dan kebijakan yang setengah hati.
Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Barat pernah mencatat potensi arkeologis benteng ini. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut konkret untuk restorasi maupun pelestarian. Tak ada papan informasi, tak ada pengamanan, tak ada perawatan. Yang ada hanyalah tumbuhan liar dan coretan vandal yang menghina martabat sejarah.
Keterbengkalaiannya adalah Simbol Pengkhianatan Kolektif
Kita tengah menyaksikan pengkhianatan intelektual dan kultural. Pemerintah daerah kerap memekikkan slogan pariwisata sejarah, namun membiarkan warisan semacam Benteng Pendem menjadi bangkai arkeologis.
Dinas terkait justru lebih sibuk menggelar festival musiman yang seremonial ketimbang membangun infrastruktur budaya yang berkelanjutan. Seperti dikatakan sejarawan Taufik Abdullah, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bersedia berdialog dengan masa lalunya—dengan penuh kesungguhan, bukan basa-basi.”
Namun dialog itu tak pernah terjadi. Sebaliknya, kita hanya menyaksikan kepura-puraan. Ironisnya, di tengah gembar-gembor pembangunan geopark dan kawasan wisata elite, situs semacam Benteng Pendem justru tidak masuk dalam radar investasi sejarah.
Bahkan dalam dokumen Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Garut 2020–2035, nama Benteng Pendem nyaris tak disebut.
Situs Sejarah Bukan Beban Anggaran, tapi Modal Peradaban
Negara-negara maju menjadikan situs sejarah sebagai pusat edukasi dan magnet ekonomi kreatif. Jepang merawat bunker perang di Okinawa sebagai bagian dari kesadaran kolektif terhadap luka sejarah.
Prancis mengubah benteng kolonial menjadi museum hidup. Sementara kita? Kita menjadikan situs seperti Benteng Pendem sebagai objek terlantar, seolah sejarah adalah beban, bukan modal.
Tak heran jika generasi muda kita tumbuh tanpa rasa memiliki terhadap ruang-ruang sejarahnya sendiri. Mereka lebih mengenal kastil-kastil Eropa daripada bunker-bunker di tanah kelahirannya.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Beruang (Bagian 1852)
Mobilitas Tinggi Gubernur Jatim: Perkuat Pertahanan, Investasi, hingga Kesejahteraan Masyarakat
Senin Ceria, Awal Pekan Penuh Energi Positif
Oase Teduh, Rumah Idaman yang Memeluk Kesejukan
Memimpin dengan Hati dan Strategi, Kunci Organisasi Berjaya
Hibah APBD untuk Siapa?
Lamongan Setelah 456 Tahun
Mutiara Pagi: Menepi Sejenak (Bagian 1853)
Sejarah sebagai Pedoman, Menulis untuk Bangsa dan Pendidikan Masa Depan
Gowok dan Kamasutra Jawa: Seksualitas, Spiritualitas, dan Estetika Tubuh dalam Kebudayaan Jawa Klasik