Benteng Pendem Garut: Di Tengah Bangkai Sejarah yang Terlupakan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 28 Mei 2025 | 10:00 WIB
Benteng Pendem di Cilacap.  (Facebook.com/Paguyuban Plat R)
Benteng Pendem di Cilacap. (Facebook.com/Paguyuban Plat R)

Oleh: MJ. Wijaya

Sejarah adalah tubuh, dan situs-situs purba adalah tulangnya. Tapi apa jadinya jika tulang-tulang itu dibiarkan lapuk di tengah semak belukar, ditinggalkan oleh mereka yang mengaku menjunjung warisan leluhur? Itulah tragedi yang membungkus Benteng Pendem di Garut, sebuah tapak kolonial yang kini berubah menjadi kuburan sejarah—sunyi, rapuh, dan diabaikan.

Benteng Pendem, yang terletak di wilayah Cimanganten, Garut Selatan, sejatinya merupakan peninggalan militer kolonial Belanda. Dibangun sekitar akhir abad ke-19, benteng ini berdiri dalam kerangka strategi pertahanan kolonial terhadap perlawanan lokal dan dinamika geopolitik Hindia Belanda.

Arsitektur bawah tanahnya yang khas menunjukkan fungsi sebagai bunker atau tempat persembunyian pasukan. Namun kini, situs ini tak lebih dari reruntuhan tak terurus yang tenggelam dalam lumpur ketidaktahuan dan kebijakan yang setengah hati.

Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Barat pernah mencatat potensi arkeologis benteng ini. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut konkret untuk restorasi maupun pelestarian. Tak ada papan informasi, tak ada pengamanan, tak ada perawatan. Yang ada hanyalah tumbuhan liar dan coretan vandal yang menghina martabat sejarah.

Keterbengkalaiannya adalah Simbol Pengkhianatan Kolektif

Kita tengah menyaksikan pengkhianatan intelektual dan kultural. Pemerintah daerah kerap memekikkan slogan pariwisata sejarah, namun membiarkan warisan semacam Benteng Pendem menjadi bangkai arkeologis.

Dinas terkait justru lebih sibuk menggelar festival musiman yang seremonial ketimbang membangun infrastruktur budaya yang berkelanjutan. Seperti dikatakan sejarawan Taufik Abdullah, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bersedia berdialog dengan masa lalunya—dengan penuh kesungguhan, bukan basa-basi.”

Namun dialog itu tak pernah terjadi. Sebaliknya, kita hanya menyaksikan kepura-puraan. Ironisnya, di tengah gembar-gembor pembangunan geopark dan kawasan wisata elite, situs semacam Benteng Pendem justru tidak masuk dalam radar investasi sejarah.

Bahkan dalam dokumen Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Garut 2020–2035, nama Benteng Pendem nyaris tak disebut.

Situs Sejarah Bukan Beban Anggaran, tapi Modal Peradaban

Negara-negara maju menjadikan situs sejarah sebagai pusat edukasi dan magnet ekonomi kreatif. Jepang merawat bunker perang di Okinawa sebagai bagian dari kesadaran kolektif terhadap luka sejarah.

Prancis mengubah benteng kolonial menjadi museum hidup. Sementara kita? Kita menjadikan situs seperti Benteng Pendem sebagai objek terlantar, seolah sejarah adalah beban, bukan modal.

Tak heran jika generasi muda kita tumbuh tanpa rasa memiliki terhadap ruang-ruang sejarahnya sendiri. Mereka lebih mengenal kastil-kastil Eropa daripada bunker-bunker di tanah kelahirannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X