Padahal seperti ditulis Michel Foucault dalam Of Other Spaces, situs-situs sejarah adalah “heterotopia” yang menyimpan makna identitas, kuasa, dan memori kolektif.
Kesimpulan: Jika Kita Tak Merawat Sejarah, Kita Layak Dilupakan Sejarah
Keterbengkalaiannya Benteng Pendem adalah cermin dari ketidakseriusan kita mengelola memori. Ia bukan sekadar reruntuhan fisik, melainkan reruntuhan kesadaran.
Jika kita tidak segera bertindak melalui riset arkeologis yang serius, restorasi berstandar warisan budaya, dan integrasi dalam narasi pendidikan serta pariwisata lokal maka kita pantas dilabeli sebagai generasi pelupa yang mengkhianati leluhurnya.
Benteng Pendem bukan sekadar situs; ia adalah luka. Dan setiap luka yang diabaikan akan menjadi infeksi peradaban.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Beruang (Bagian 1852)
Mobilitas Tinggi Gubernur Jatim: Perkuat Pertahanan, Investasi, hingga Kesejahteraan Masyarakat
Senin Ceria, Awal Pekan Penuh Energi Positif
Oase Teduh, Rumah Idaman yang Memeluk Kesejukan
Memimpin dengan Hati dan Strategi, Kunci Organisasi Berjaya
Hibah APBD untuk Siapa?
Lamongan Setelah 456 Tahun
Mutiara Pagi: Menepi Sejenak (Bagian 1853)
Sejarah sebagai Pedoman, Menulis untuk Bangsa dan Pendidikan Masa Depan
Gowok dan Kamasutra Jawa: Seksualitas, Spiritualitas, dan Estetika Tubuh dalam Kebudayaan Jawa Klasik