Pernahkah kamu merasa bersalah saat beristirahat? Atau merasa gagal hanya karena tidak produktif seharian?

photo author
Fauji Rohmat, Journal Nusantara
- Minggu, 29 Juni 2025 | 16:24 WIB

Di era digital, budaya ini makin populer, terutama di kalangan generasi muda yang dibanjiri slogan motivasi semu seperti “kerja dulu, liburan belakangan” atau “tidur hanya untuk yang lemah.” Sayangnya, di balik semangat itu tersembunyi tekanan psikologis yang tak sedikit.

Hustle Culture dan Rasa Cemas yang Tersembunyi

Fenomena ini semakin marak di media sosial. Para konten kreator dan influencer kerap memamerkan rutinitas padat mereka sebagai bentuk pencapaian. Tak sedikit mahasiswa atau pekerja muda merasa cemas saat memiliki waktu luang, seolah-olah tidak produktif berarti gagal.

Kita dipaksa percaya bahwa sibuk adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan. Tanpa disadari, hal ini membuat banyak anak muda mengabaikan kesehatan mental demi terlihat “berhasil” di mata orang lain.

Padahal, menurut survei American Psychological Association, tekanan berlebih akibat tuntutan kerja atau belajar tanpa henti meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan burnout (kelelahan mental total). Di Indonesia, layanan konseling daring seperti Riliv mencatat lonjakan keluhan terkait stres akademik dan pekerjaan, terutama dari kelompok usia 18–25 tahun.

Antara Semangat dan Siklus Kelelahan

Tidak bisa dimungkiri, budaya hustle punya sisi positif. Ia membentuk semangat juang, kedisiplinan, dan motivasi untuk berkembang. Namun, tanpa batas yang sehat, budaya ini dapat menjebak kita dalam siklus kelelahan kronis.

Lebih parahnya lagi, banyak orang mulai mengukur harga dirinya dari seberapa sibuk dan produktif mereka terlihat. Bekerja menjadi tidak lagi tentang pencapaian bermakna, tapi tentang eksistensi yang dipaksakan

Media Sosial dan Standar Sukses yang Menyesatkan

Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi ini. Algoritma terus menyodorkan potret kehidupan orang lain: kantor mewah, bisnis sampingan, prestasi akademik, kuliah sambil kerja. Akibatnya, kita merasa tertinggal, tidak cukup, dan terus memaksa diri untuk mengejar standar yang tidak nyata.

Padahal, setiap orang punya ritme dan cerita hidupnya sendiri. Memaksakan produktivitas tanpa memahami batas diri hanya akan mengorbankan kesehatan mental.

Saatnya Merayakan Keseimbangan

Bekerja keras itu penting, tetapi tubuh dan pikiran juga punya hak untuk istirahat. Kita perlu belajar mengatakan cukup, mengenali batas diri, dan membebaskan diri dari tekanan menjadi sempurna di mata dunia.

Produktivitas yang sehat adalah produktivitas yang tidak mengorbankan kesehatan mental. Karena pada akhirnya, hidup yang bermakna bukan diukur dari seberapa padat jadwal kita, tetapi dari seberapa damai hati dan pikiran saat menjalaninya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fauji Rohmat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X