Oleh:Melisa Efrata Girsang
Di balik hiruk-pikuk kota yang terus bergerak, ada wajah-wajah kecil yang sering tak kita hiraukan. Mereka bukan sekadar pengamen atau peminta-minta—mereka adalah anak-anak. Anak-anak yang seharusnya bermain, belajar, dan tumbuh dalam kasih sayang keluarga, namun kini terpaksa menjadikan trotoar sebagai tempat tidur dan lampu merah sebagai mata pencaharian.
Banyak dari mereka kehilangan rumah bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan. Kemiskinan, kekerasan dalam keluarga, atau bahkan bencana membuat mereka terlempar ke jalanan. Sayangnya, masyarakat sering kali hanya melihat mereka sebagai gangguan, bukan sebagai korban.
Anak jalanan menghadapi risiko besar: kekerasan, eksploitasi, hingga kehilangan masa depan. Tanpa pendidikan dan perlindungan yang layak, mereka hidup dalam siklus yang terus berulang. Dunia mereka tak mengenal jadwal sekolah, hanya jadwal bertahan hidup.
Penting bagi kita, sebagai sesama manusia, untuk membuka mata dan hati. Anak-anak ini bukan masalah yang harus disingkirkan, melainkan amanah yang harus dijaga. Mereka berhak atas kehidupan yang lebih baik, seperti halnya anak-anak lainnya.
Mari mulai dari hal kecil: menghormati, tidak menghakimi, dan mendukung program-program sosial yang nyata. Karena setiap anak berhak memiliki rumah—bukan jalanan. Dan ketika kita mulai peduli, kita telah memberi harapan baru bagi masa depan mereka.
Pemerintah memang telah berupaya lewat berbagai program, namun tanpa peran aktif masyarakat, hasilnya tak akan maksimal. Dunia anak-anak terlalu berharga untuk dibiarkan hancur hanya karena kita memilih untuk cuek.
Setiap senyuman, perhatian, dan bantuan kecil bisa berarti besar bagi mereka. Bukan belas kasihan yang mereka butuhkan, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan membuktikan bahwa mereka juga bisa berhasil.Jalanan bukan tempat tumbuhnya mimpi. Saat kita bersama-sama menyadari hal itu, barulah kita benar-benar bisa disebut sebagai bangsa yang peduli. Karena sejatinya, anak-anak terlantar bukan hanya tanggung jawab negara—mereka adalah tanggung jawab kita semua.
Artikel ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang diampu oleh Bapak Mawardi Nurullah, S.Pd., M.Pd. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab warga negara dalam melindungi hak anak-anak terlantar sebagai bagian dari nilai-nilai Pancasila dan pendidikan kewarganegaraan.
Artikel ini disusun oleh Melisa Efrata Girsang, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan. Diharapkan melalui tulisan ini, pembaca dapat memahami bahwa anak jalanan berhak mendapat perhatian dan perlindungan, serta pentingnya peran warga negara dalam mewujudkan keadilan sosial.
Artikel Terkait
Saatnya Pendidikan Kewarganegaraan Mengajarkan Keberanian Berpendapat!
Meriahkan Tahun Baru Islam, Warga Gelar Pawai Obor Keliling Kampung
Pelantikan dan Talkshow di STIS NU Cianjur Hadirkan Tokoh Inspiratif
Jejak Berdaya: LSPR Hadirkan Semangat Pemberdayaan dan Kreativitas dengan Sederet Pembicara Inspiratif
Mutiara Pagi: Menapak Hijrah ( Bagian 1884)
Konflik Israel-Iran: Antara Strategi Militer dan Perang Politik di Timur Tengah
UKT Meroket: Jeritan Wali Mahasiswa di Tengah Kabar Buruk Pendidikan Tinggi
Membongkar Skema Korupsi Walmer Group: Kejagung Amankan Uang Rakyat
RW 16 Vijayakusuma Gelar Peringatan 1 Muharam dan Syukuran 35 Tahun Perjuangan Pasos-Fasum
Masyarakat Sambut Meriah 1 Muharram di Seluruh Indonesia