Air Mata di Penghujung Ramadan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 29 Maret 2025 | 09:41 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

Sedangkan Ali Gomaa, mantan Mufti Mesir dan cendekiawan dari Universitas Al-Azhar, juga menyatakan bahwa Ramadan adalah latihan spiritual yang harus meninggalkan jejak dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan bahwa tanda keberhasilan Ramadan bukan hanya pada saat bulan itu berlangsung, tetapi pada bulan-bulan setelahnya.

Dalam pandangannya, jika kita tetap menjaga salat malam, sedekah, dan lisan setelah Ramadan, pertanda bahwa ibadah kita telah diterima oleh Allah. Oleh karena itu, kita memohon dengan penuh kerendahan hati, "Ya Allah, jika Ramadan ini adalah yang terakhir bagi kami, terimalah setiap amal ibadah kami. Namun, jika Engkau mengizinkan kami bertemu Ramadan berikutnya, jadikanlah kami hamba yang lebih baik, bersyukur, dan lebih mencintai-Mu."

Selamat Jalan, Ramadan!

Di penghujung Ramadan, kita belajar bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, perpisahan inilah yang mengajarkan kita tentang makna sebuah perjumpaan. Jika kali ini kita merasa bersedih karena Ramadan akan pergi, biarlah menjadi pengingat bahwa kita memiliki tugas besar untuk menjaga semangatnya tetap menyala dalam diri.

Sebab, Ramadan sejatinya bukan hanya tentang bulan yang datang dan pergi, tetapi bagaimana kita menjadikannya sebagai titik balik dalam kehidupan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Ibn Utsaimin, bahwa orang yang benar-benar mendapatkan manfaat dari Ramadan adalah mereka yang lebih baik perilakunya. Mereka keluar dari bulan tersebut dalam keadaan lebih baik daripada saat mereka memasukinya.

Dengan kata lain, Ramadan telah menjadi sarana perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar ritual tahunan yang berlalu begitu saja tanpa makna. Ketika takbir mulai berkumandang, yang menandakan datangnya hari kemenangan, biarkan hati tetap tertunduk dalam syukur. Jadikanlah ia sebagai awal dari perjalanan spiritual yang lebih indah.

Ramadan pasti akan pergi, tetapi semangatnya harus tetap tinggal di dalam hati. Selamat jalan, Ramadan. Semoga kita diberi umur panjang untuk bisa kembali bertemu di tahun depan, dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan jiwa yang lebih dekat dengan-Nya. Aamiin.

*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X