Oleh: Muaalif Masykur
Entah siapa yang memulai tradisi mudik di tanah Nusantara tercinta ini. Barangkali sudah ada sejak zaman kolonial atau bahkan sebelumnya.
Namun kalau kita tengok jauh ke belakang, Nabi mulia kita sayyidina Muhammad SAW pernah melakukan perjalanan mudik saat peristiwa "Fathul Makah".
Seperti sejarah-sejarah yang masyhur, Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah dengan keluarga besar Bani Hasyim yang bertempat tinggal di seputaran kota tersebut.
Tentu semua manusia akan bahagia dan merasa tentram jika tinggal di kelilingi oleh keluarga, kerabat dan sejawat yang sedari kecil menjadi sandaran dan penghias kehidupan.
Kondisi serta keadaanlah yang terkadang memaksa seseorang harus berpisah dengan tanah kelahiran, keluarga dan handai tauladan tercinta untuk merantau dengan meninggalkan jejak semua kenangan indah di dalamnya.
Tidak ada orang yang senang hidup di perantauan, karena yang terbayang adalah indahnya kampung halaman yang ditinggalkan.
Nabi tercinta saat melaksanakan hijrah(merantau) ke Madinah pun dalam balutan kalbu yang berkecamuk kesedihan karena harus meninggalkan tanah kelahiran tercinta(Makkah).
Tujuh tahun hidup di Madinah, barulah Nabi SAW melakukan perjalanan mudik ke Makkah sekaligus momen pertama kali Nabi merayakan Hari Raya Iedul Fitri di tanah kelahiran yang dalam banyak literatur.
Di samping karena misi membebaskan Makkah dari cengkeraman kemusyrikan juga salah satunya kerinduan mendalam beliau terhadap tanah kelahirannya.
Mudiknya Nabi di tanggal 20 Ramadhan ini di abadikan pada sebuah peristiwa Fathul Makah. Dalam peristiwa tersebut beliau membawa kedamaian dan memaafkan semua orang yang dulu pernah mengusir serta menyakiti nya.
Selama 19 hari beliau berada di tanah kelahiran sebelum akhirnya balik lagi ke Madinah dengan jarak 434 km untuk meneruskan misi nubuwwah yang belum terselesaikan sampai akhirnya wafat dan di makam kan di sana.
Semoga mudik yang menjadi tradisi di Nusantara bisa membuat wasilah kebahagiaan dan menjadi nilai ibadah dengan menjalin tali silaturahmi bersama keluarga, tetangga dan sahabat yang lama terpisah, serta mampu menebarkan pintu maaf untuk semua anak bangsa.
Sehingga bisa terwujud kedamaian, ketentraman dan kemakmuran menuju bangsa yang mardlotillah Amin.
Artikel Terkait
Air Mata yang Disambut Langit
PKB Desak Pemkab Cianjur Segera Atasi Empat Isu Krusial demi Kemajuan Daerah
Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis
Puncak Dies Maulidiyah ke-14 Racana KH Abdullah Bin Nuh - Laksminingrat Gerakan Pramuka STAI Al-Azhary Cianjur, Sukses Digelar
Buka Puasa Majlis Alumni IPNU-IPPNU Cianjur: Membangun Soliditas dan Loyalitas untuk NU dan Masyarakat
Mutiara Pagi: Aroma Doa Ramadan (Bagian 1792)
Menjadi Bintang di Malam Ramadan
Keberkahan Terakhir di Bulan Ramadan
Mutiara Pagi: Bulan Suci Beranjak Pergi (Bagian 1793)
Cahaya di Penghujung Ramadan