Oleh Mohamad Sinal
Ramadan adalah bulan penuh berkah. Langit malamnya dihiasi dengan kilauan doa, zikir, dan pengharapan. Seperti bintang bersinar dalam gelapnya malam.
Dalam kesunyian dan ketenangan Ramadan, kita diajak untuk merenung. Menjadi bintang yang bersinar, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dunia sekitarnya. Dengan kata lain, menjadi cahaya yang menuntun dirinya dan orang lain menuju kebaikan.
Sejatinya, bintang bukan hanya sekadar benda langit yang memancarkan cahaya. Ia juga menjadi petunjuk bagi mereka yang tersesat dalam gelapnya kehidupan. Dengan demikian, menjadi bintang di malam Ramadan adalah menemukan cahaya dalam dirinya, dan membagikannya kepada sesama.
Dalam proses menjadi bintang, seseorang harus mampu melakukan pembersihan jiwa. Menundukkan hawa nafsu, mengikis ego, dan menguatkan kesabaran. Melalui tindakan tersebut, seseorang akan dapat menyelami hakikat dirinya yang lebih dalam.
Seperti bintang yang bersinar setelah melewati gelapnya malam. Seseorang yang berpuasa dengan penuh kesadaran akan menemukan jati dirinya yang sejati. Menyelami hakikat dirinya yang sebenarnya.
Namun, cahaya setiap bintang tidak pernah hadir dari kegelapan yang biasa-biasa saja. Ia lahir dari pekatnya malam yang luar biasa. Bahkan, dari gulitanya malam yang sangat dahsyat.
Demikian pula manusia, cahaya kebijaksanaan dan keimanannya tidak akan bersinar tanpa ujian dan cobaan. Ramadan menjadi kawah candradimuka bagi jiwa yang ingin mencapai kesempurnaan. Ramadan dapat menempa seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat, ikhlas, dan bercahaya.
Para sahabat Nabi memberikan teladan bagaimana mereka menjadi bintang di bulan Ramadan. Umar bin Khattab pernah berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang." Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momen refleksi diri yang harus dimanfaatkan untuk memperbaiki diri sebelum datangnya pengadilan akhirat.
Sementara itu, Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Manusia itu tidur, ketika mati, barulah mereka terjaga." Ramadan adalah kesempatan untuk membangunkan diri sebelum ajal menjemput. Tujuannya adalah agar kita tidak terlena dalam kegelapan dunia.
Selain itu, Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal ibadah, khususnya dalam Ramadan. Ia menyatakan bahwa puasa adalah bentuk ibadah yang paling murni. Ramadan mengajarkan kita untuk membersihkan niat dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Ramadan adalah waktu yang sempurna untuk berbagi. Ramadan menjadi cahaya bagi mereka yang membutuhkan. Seperti bintang yang tidak bersinar hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menerangi sekitarnya.
Oleh sebab itu, manusia yang tercerahkan akan menjadikan kehadirannya sebagai anugerah bagi sesama. Memberi makan kepada yang lapar dan menyantuni yang kurang mampu. Berbagi kebahagiaan kepada yang membutuhkan adalah cara-cara untuk menjadi bintang di malam Ramadan.
Lebih dari sekadar amalan lahiriah, Ramadan juga mengajarkan kita untuk menjadi bintang dalam makna yang lebih luas. Yakni, menjadi teladan dalam kebaikan. Membawa inspirasi bagi orang lain dan menjaga integritas dalam setiap langkah kehidupan.
Di dunia yang terkadang dipenuhi kegelapan, menjadi bintang berarti menjadi pribadi yang tetap teguh memegang kebaikan. Berani melawan segala bentuk ketidakadilan. Melawan ketidaktulusan dan kesewenang-wenangan meskipun harus berdiri sendiri dalam gelap.
Artikel Terkait
Pasang Surut Suku Batak
DEMA STAI Al-Azhary Hadirkan Iftar Raya: Momentum Silaturahmi dan Diskusi Mahasiswa
Juara Piala Teluk Arab 2025 Tumbang Oleh Timnas Garuda di GBK
Mutiara Pagi: Ziarah Jiwa di Bulan Suci (Bagian 1791)
Air Mata yang Disambut Langit
PKB Desak Pemkab Cianjur Segera Atasi Empat Isu Krusial demi Kemajuan Daerah
Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis
Puncak Dies Maulidiyah ke-14 Racana KH Abdullah Bin Nuh - Laksminingrat Gerakan Pramuka STAI Al-Azhary Cianjur, Sukses Digelar
Buka Puasa Majlis Alumni IPNU-IPPNU Cianjur: Membangun Soliditas dan Loyalitas untuk NU dan Masyarakat
Mutiara Pagi: Aroma Doa Ramadan (Bagian 1792)