Menyoal Makan Bergizi Gratis (MBG), Bertaruh Politik di Pilpres 2029

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Sabtu, 11 Oktober 2025 | 10:00 WIB
Ridwan Mubarok; Pengamat Sosial dan Politik, Praktisi Media dan Pendidikan serta Aktivis Penggiat Anti Korupsi
Ridwan Mubarok; Pengamat Sosial dan Politik, Praktisi Media dan Pendidikan serta Aktivis Penggiat Anti Korupsi

JournalNusantara.com - Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan Mega Proyek Nasional yang dibiayai sepenuhnya oleh uang rakyat melalui APBN. Untuk tahap awal pemerintah menggelontorkan sekitar 71 triliun untuk program yang satu ini. Belum lama ini, pemerintahpun menambah jumlah anggaran MBG sebesar 28 triliun, jadi total dana MBG dari APBN tahun 2025 adalah 99 triliun. Berikutnya, ditahun 2026 nanti pemerintah telah mengalokasikan dana 335 triliun untuk Prgoram MBG. Dana ini tentunya bukanlah dana yang biasa-biasa saja jika kita melihat jumlah APBN kita dalam satu tahun yang hanya sebesar lebih kurang 2600 triiun. 

Program MBG menjadi penting dan harus terus dilaksanakan dalam upaya menyongsong terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. Kecukupan gizi, nutrsisi dan asupan vitamin yang baik untuk pertumbuhan otak dan fisik anak-anak Indonesia menjadi prioritas Presiden Prabowo selama ini, karena merekalah calon-calon pemimpin bangsa di masa depan.

Hal yang harus dipahami bersama, bahwa Program MBG saat ini tidak semata program yang asal-asalan atau program pemerintah yang asal jadi, karena terikat janji kampanye dulu saat Pilpres. Setiap hal yang dijanjikan saat kampanye Pilpres 2024 lalu adalah utang yang harus dibayar lunas dan menjadi dokumen publik. Jika tidak dipenuhi maka masuk kategori pembohongan terhadap publik, yang bisa berimplikasi pada ancaman pemakzulan kepala negara. 

Mengingat hal yang demikian, maka Presiden Prabowo harus terus berupaya melaksanakan Program MBG ini dengan segala daya upaya. Jika Program MBG Ini berhasil, maka dapatlah dipastikan Prabowo akan terpilih kembali menjadi Presiden di 2029 mendatang. Namun sebaliknya, jika Program MBG gagal maka sulit untuk Prabowo melenggang ke Istana di periode kedua. Berhasil dan tidaknya Program MBG akan sangat berkorelasi dengan hajat politik Prabowo di Pilpres 2029. 

Sejak mula Program MBG digulirkan, pro dan kontra muncul di ruang publik. Namun pemerintah dengan tim MBGnya terus berupaya meyakinkan seluruh elemen bangsa untuk turut menjadi bagian dari mega proyek nasional ini. Secara konsep Program MBG sudah sangat baik, namun pada tataran tekhnis masih banyak kelemahan-kelemahan yang berujung pada kaus-kasus keracuanan makanan pada peserta didik yang menjadi penerima manfaat program ini. 

Dikutip dari detik.com edisi Rabu, 01 Oktober 2025, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memaparkan data terbaru terkait kasus keracunan dalam program MBG. Hingga akhir September 2025, tercatat 75 kejadian keracunan sejak program ini berjalan. Dadan menjelaskan, sebanyak 24 kasus terjadi dalam periode 6 Januari-31 Juli 2025, sementara 51 kasus lainnya muncul antara 1 Agustus-30 September 2025.

Menyikapi hal demikian, penulis menawarkan beberapa alternatif demi susksesnya MBG ini. Pertama, satu dapur MBG maksimal hanya diperbolehkan menyiapkan ransum/ jatah makanan sebanyak 2000 paket saja tidak 3500 paket. Ini dimaksudkan untuk meminimalisir resiko makanan menjadi cepat basi dan pengerjaan bisa lebih cepat.

Kedua, berikan dana MBG kepada orangtua siswa melalui pihak sekolah, karena yang tahu persisi kebutuhan makanan yang layak santap dan memenuhi standar gizi adalah orangtua dan pihak sekolah. Untuk meminimalisir penyelewangan dana MBG yang dimanahkan kepada orangtua dan sekolah, maka Badan Gizi Nasional (BGN) diberikan keleluasaan utk mengawasi dan mengaudit dana yang disalurkan dengan pihak-pihak terkait. 

Ketiga, jika Program MBG ini tetap tersentralistik oleh BGN sebagi leading sector, maka pihak BGN wajib mengawasi secara ketat sejak awal penyajian MBG tersebut, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, pengemasan hingga penyajian. Semua aktivitas tersebut haruslah sesuai dengan SOP yang telah dibakukan oleh Badan Gizi Nasional dan memenuhi standar minimal kebutuhan gizi dan nutrisi peserta didik sebagai penerima manfaat Program MBG. 

Penulis meyakini bahwa pemerintah tidak sedang main-main dengan program MBG ini,  Karena pertaruhannya terlalu mahal, yakni anak-anak bangsa yang berhak memperoleh kecukupan gizi dan nutrisi secara maksimal dan menghindari potensi malnutrisi pada proses tumbuh kembang anak bangsa.

Merekalah calon-calon pemimpin bangsa di masa depan yang harus kita jaga dan kita lindungi hak-hak hidupnya. Melalui Program MBG, pemerintah diharapkan mampu mewujudkan itu semua. Karenanya, kita semua harus berkepentingan untuk mensukseskan Program MBG sebagaimana harusnya, karena ada masa depan anak-anak bangsa yang dipertaruhkan. Program MBG untuk Indonesia yang lebih baik. (Rimba Raya)

Ridwan Mubarok:
Penulis bergiat di KOMNASDIK Jawa Barat, LTN NU Jawa Barat, YAPEKNAS Kab. Cianjur, Komite Sekolah MAN 2 Cianjur dan Dosen FDK UIN SGD Bandung. 

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X