Oleh: Dr. Zaenal Masduqi, M.Ag, MA.
Setelah dua tahun pertempuran sengit yang dilancarkan Zionis dengan tujuan melumpuhkan Hamas dan faksi perlawanan Palestina lainnya, yang tersisa justru kerugian tak terbatas di pihak Zionis itu sendiri.
Data menunjukkan bahwa sekitar 7.000 tentara IDF harus tewas di medan laga, sementara 25.000 lainnya kembali dalam kondisi cacat baik secara mental (depresi, desertir) maupun fisik.
Kerugian juga melanda alutsista kebanggaan mereka. Sebanyak 1.680 unit tank Merkava, kendaraan pengangkut personel (Namir), dan buldoser telah berubah menjadi rongsokan besi di gugusan pasir Gaza, dihantam oleh rudal Yasin 105.
Selain itu, upaya mereka untuk membebaskan tawanan tidak pernah berhasil, kecuali melalui mekanisme pertukaran tawanan di bawah perlindungan Palang Merah Internasional (PMI) dan PBB. Semua fakta kerugian ini disorot secara langsung, tajam, dan tersebar luas ke seluruh dunia melalui media internasional seperti Al-Jazeera (Qatar), Al-I'lam al-'Askari (Hamas), dan Al-I'lam al-Harbi (Jihad Islam).
Kerugian langsung akibat perang ini, ditambah dengan kerugian ikutan lainnya, telah memaksa Zionis untuk bersikap realistis dalam melanjutkan agresi. Ternyata, kekuatan tempur mereka tidak memadai untuk melumat total kekuatan Hamas.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa permintaan Zionis untuk berunding dengan musuh mengindikasikan adanya kerugian besar dan kebutuhan mendesak akan masa jeda guna memulihkan kekuatan.
Perundingan gencatan senjata telah diselenggarakan di Sharm El-Sheikh, Mesir, pada Kamis, 9 Oktober 2025. Kesepakatan ini mencakup penghentian perang pemusnahan terhadap rakyat Palestina, penarikan pasukan penjajah dari Jalur Gaza, masuknya bantuan kemanusiaan, serta proses pertukaran tahanan.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dicapai, rekam jejak Zionis pasca-perundingan sering kali menunjukkan upaya mereka untuk mencederai isi kesepakatan dengan melancarkan serangan kembali.
Atas dasar itulah, sejak awal Hamas menolak untuk menyerahkan senjata, menolak penyerahan tawanan secara keseluruhan, dan menolak intervensi kekuatan asing untuk mengelola Gaza. Ini adalah sebuah 'izzah (kemuliaan) yang ditunjukkan di hadapan kekuatan penjajah.
Adapun korban yang harus dibayar, yakni 60.000 syahid dan 168.000 jiwa yang belum ditemukan tertimbun di bawah reruntuhan gedung, merupakan pengorbanan termahal.
Ini adalah harga yang harus dibayar demi sebuah cita-cita besar: kemerdekaan dan kedaulatan penuh untuk menentukan arah masa depan bangsa Palestina. Wallahul a'lam bis showab.
Artikel Terkait
Mengatasi Badai, 5 Tantangan Utama dalam Meraih Kesuksesan
Cantik Cetar Membahana: Lebih dari Penampilan, Ini Soal Kekuatan Diri
Oase di Tengah Terik, Strategi Efektif Agar Rumah Selalu Adem
Mutiara Pagi: Orang Bijak (Bagian 1992)
Pengusaha EO Mengaku Tertipu Oknum yang Janjikan Proyek dari Wamendes
Cita Rasa Otentik dari Kota Beras, Menjelajahi Kuliner Khas Cianjur
BEM PTNU Tolak Keras Atlet Senam Israel di Indonesia, Langgar Konstitusi dan Lukai Solidaritas Palestina
Cara Efektif Mengusir Cicak dari Rumah
Konsep Baru dalam Meningkatkan Keterampilan Negosiasi di Kalangan Pusat Sertifikasi PLN Bersama Qoach Afiq
Mutiara Pagi: Orang Bijak 2 (Bagian 1993)