Oleh: H. Dien At-Tasiki
Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari tak hanya diakui sebagai pendiri jam‘iyyah, melainkan juga mata air spiritual yang tak pernah kering.
Beliau adalah guru dari para guru (Syaikhu al-Masyayikh) yang warisan ajarannya terus mengalir. Karomah Mbah Hasyim bukanlah kisah tentang keajaiban di luar nalar yang menyalahi hukum alam, melainkan sebuah manifestasi spiritual yang terjelma dalam sikap hidup dan pengabdian.
Karomah beliau sesungguhnya bersemayam dalam setiap jiwa Nahdliyyin yang teguh mencintai ilmu, memuliakan ulama, dan menghidupkan amaliyah Ahlussunnah wal Jama‘ah (Aswaja) dengan penuh Istiqomah.
Karomah itu turun kepada mereka yang tak pernah lelah dalam berkhidmah mengurusi NU, mengurus umat, dan mengamalkan Aswaja dalam hidup keseharian mereka dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih.
Merekalah, para kader dan warga NU yang setia berjuang di akar rumput, yang merupakan wajah-wajah karomah yang hidup di masa kini.
Kesetiaan mereka pada prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) adalah perwujudan nyata dari ajaran luhur sang pendiri.
Maka, sejatinya, setiap langkah jujur dan ikhlas warga NU dalam berkhidmah adalah lanjutan dari do'a-do'a Mbah Hasyim Asy'ari yang terus hidup, menembus generasi, dan menyinari perjalanan bangsa ini dengan semangat keislaman dan keindonesiaan.
Mereka mewarisi bukan hanya organisasi, tetapi juga ruh perjuangan.
Artikel Terkait
Cantik Cetar Membahana: Lebih dari Penampilan, Ini Soal Kekuatan Diri
Mutiara Pagi: Orang Bijak (Bagian 1992)
Pengusaha EO Mengaku Tertipu Oknum yang Janjikan Proyek dari Wamendes
Cita Rasa Otentik dari Kota Beras, Menjelajahi Kuliner Khas Cianjur
BEM PTNU Tolak Keras Atlet Senam Israel di Indonesia, Langgar Konstitusi dan Lukai Solidaritas Palestina
Cara Efektif Mengusir Cicak dari Rumah
Konsep Baru dalam Meningkatkan Keterampilan Negosiasi di Kalangan Pusat Sertifikasi PLN Bersama Qoach Afiq
Menguasai Interaksi, Mengenal Empat Gaya Komunikasi Utama
Mutiara Pagi: Orang Bijak 2 (Bagian 1993)
Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk