Menguasai Interaksi, Mengenal Empat Gaya Komunikasi Utama

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 10 Oktober 2025 | 10:00 WIB
Foto ilustasi: Rahasia gaya komunikasi Kepala Sekolah yang disukai Guru dan Staf sekolah (Borneostreet.id/Ans)
Foto ilustasi: Rahasia gaya komunikasi Kepala Sekolah yang disukai Guru dan Staf sekolah (Borneostreet.id/Ans)

Journalnusantara.com - Gaya komunikasi adalah cara kita menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan.

Pemilihan gaya sangat menentukan bagaimana pesan diterima dan bagaimana hubungan interpersonal terbentuk.

Ada empat tipe dasar gaya komunikasi yang umum, dan menguasai perbedaan di antaranya adalah kunci untuk interaksi yang efektif.

Gaya yang paling dianjurkan adalah Asertif (Assertive). Komunikator asertif mampu menyatakan kebutuhan dan pendapatnya secara jujur, langsung, dan terbuka, namun tetap menghormati hak orang lain.

Mereka menggunakan pernyataan "Saya merasa..." atau "Menurut saya...", yang menunjukkan kepemilikan atas pikiran mereka tanpa menyalahkan.

Gaya ini memupuk rasa saling percaya dan menghasilkan solusi win-win.

Kebalikan dari asertif adalah Pasif (Passive). Individu pasif cenderung menghindari konfrontasi dan menekan perasaan atau kebutuhan mereka sendiri agar tidak menyinggung orang lain.

Mereka mungkin setuju pada sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini. Hal ini dapat membuat mereka merasa tidak didengar dan pada akhirnya menimbulkan frustrasi terpendam.

Selanjutnya, ada gaya Agresif (Aggressive). Komunikator agresif fokus pada memenangkan argumen dengan cara mendominasi, mengintimidasi, atau meremehkan orang lain.

Mereka sering menggunakan bahasa tubuh yang mengancam dan nada suara yang keras. Gaya ini merusak hubungan dan membuat orang lain merasa tertekan, meskipun tujuan mereka tercapai.

Terakhir, gaya Pasif-Agresif (Passive-Aggressive) adalah campuran yang kompleks.

Seseorang mungkin tampak patuh di permukaan (pasif), tetapi melampiaskan kemarahan atau ketidaksetujuan mereka secara tidak langsung melalui sarkasme, penundaan pekerjaan (sabotase halus), atau bermuka dua.

Gaya ini menciptakan kebingungan dan ketidakjujuran karena masalah sebenarnya tidak pernah dibahas secara terbuka.

Mengenali dan bergeser menuju gaya komunikasi asertif sangat penting, baik dalam negosiasi, lingkungan kerja, maupun kehidupan pribadi, karena itu adalah cara terbaik untuk memastikan pesan tersampaikan dengan jelas dan kebutuhan terpenuhi tanpa mengorbankan hubungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB
X