Ada dua nama Jakob yang sangat membekas dalam hidup saya dan memengaruhi perjalanan intelektual saya. Yang pertama adalah Jakob Oetama, pendiri harian Kompas.
Gagasan beliau tentang Keindonesiaan dan jurnalisme berintegritas telah mendorong banyak anak muda untuk menjadi jurnalis, termasuk saya.
Melalui tulisannya, beliau menegaskan bahwa muruwah media ada pada halaman opini dan sastra. Tidak heran jika kekuatan Kompas terletak pada opini dan cerpennya.
Nama kedua adalah Jakob Soemardjo, seorang sastrawan dengan cakrawala pemikiran yang luas—mencakup teori sastra, kritik sastra, karya sastra, teater, budaya, hingga filsafat Sunda.
Buku yang paling berpengaruh bagi saya adalah Apresiasi Kesastraan, yang ditulis bersama Saini KM. Saya membacanya ketika masih “bau kencur”, penuh ketertarikan namun tertatih-tatih dalam memahami.
Buku itu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa kesusastraan selalu berhubungan erat dengan kehidupan. Dari sanalah saya belajar membedakan karya yang baik dan yang kurang.
Sejak saat itu, saya mulai membaca karya-karya teori sastra dari Rene Wellek, Teeuw, Mangunwijaya, Sapardi, Budi Darma, Kuntowijoyo, hingga akhirnya karya Eka Kurniawan yang bermula dari skripsi lalu terbit menjadi buku.
Dalam pembukaan pameran “Jejak Mesin Tik Jakob Soemardjo Sang Maestro” pagi hingga sore tadi, saya merasa pantas untuk memberikan penghormatan kepada beliau, juga kepada para penggagas pameran, Kang Herry Dim dan Kang Hikmat Gumelar.
Bagi saya pribadi, pameran ini kembali mengingatkan bahwa pencapaian sejati seorang manusia terletak pada pemikirannya. Buku-buku para sastrawan yang saya sebut tadi merupakan karya pemikiran yang luar biasa berharga, biasa dibaca oleh orang-orang yang bermental kuat bukan sekadar buku motivasi yang umumnya dibaca oleh mereka yang bermental lemah.
Artikel Terkait
KH Hasyim Asyari
Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela
Umar bin Abdul Aziz dan Pajak
Mutiara Pagi: Di Tengah Bara Ketidakadilan (Bagian 1944)
Ketika "Bosen" Bertemu Teori Gossen: Mencari Makna di Balik Konsumsi
Souvenir Bintang Mahaputra
Kritisisme, Basirah, dan Seni Mendeteksi Zaman
Dihadiri Camat Cibeber, Ratusan Peserta Jalan Sehat Meriahkan HUT RI ke-80 di Desa Cisalak
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Temukan Solusi Pemberdayaan Sampah Organik Melalui Budidaya Maggot
Negara Rusak oleh Pejabat yang Tamak