Oleh: Munawir Kamaluddin
Pernahkah kita menguji pandang batin sendiri sembari menghadirkan pertanyaan, apakah mataku sekadar melihat permukaan, atau menembus jaringan sebab-akibat yang tersembunyi?
Pernahkah kita bertanya: “Jika kabar itu menggoda, apa akalku memverifikasi, atau hanya melahapnya karena sesuai selera?”
Sudahkah kita memikirkan skenario terburuk agar dapat menempuh skenario terbaik, atau justru kita hanyut dalam optimisme tanpa perhitungan?
Dan di tengah laju warta, opini, algoritma yang menggiring rasa, apakah aku menjadi penganut kebenaran, atau sekadar penikmat pembenaran?
*Elang di Langit, Basirah di Hati*
Elang tidak tergesa. Ia mengambil ketinggian, menyablon peta dari udara, mengenali pola gerak, mengukur arah angin, lalu menukik hanya ketika saatnya tepat.
Ketajaman matanya bukan sekadar anugerah biologis, ia adalah disiplin perspektif, melihat luas agar paham rinci, menimbang rinci agar tepat mengambil keputusan.
Inilah metafora basirah, mata batin yang jernih, yang oleh Islam ditempa dengan taqwa, ilmu, dan adab.
Allah SWT. memerintahkan visi jauh ke depan, kemampuan antisipatif yang cermat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk esok (hari).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ketajaman elang itu juga adalah etika verifikasi, tidak menyambar setiap bayangan. Maka Al-Qur’an mengikat akal sehat kita dengan adab memeriksa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah (kebenarannya).” (QS. Al-Ḥujurāt: 6)
Dan lebih jauh, Islam melarang langkah yang tak bertanggung jawab, yang lahir dari prasangka tanpa data:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak engkau punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36)
Elang memadukan jarak dan kedekatan, tinggi untuk memetakan, tajam untuk memutuskan.
Demikian pula insan beriman: tinggi ilmunya, tajam nuraninya. Allah bertanya retoris:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang tahu dengan yang tidak tahu? Hanya Ulul Albab (pemilik akal jernih) yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Artikel Terkait
Kesalehan yang Terlupakan di Tengah Modernitas
Kehidupan Makin Timpang, NU Penyeimbang?
Kisah Ibnu Harjo, Sang Ulama Tersembunyi
Mutiara Pagi: Kembali ke Nol (Bagian 1942)
HUT RI ke-80, Jalan Santai dan Karnaval Bumi Marhamah Cianjur Disambut Meriah Warga
KH Hasyim Asyari
Mutiara Pagi: Hukum sebagai Panglima (Bagian 1943)
Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela
Umar bin Abdul Aziz dan Pajak
Mutiara Pagi: Di Tengah Bara Ketidakadilan (Bagian 1944)