Rasa putus asa itu wajar
Bahkan geram pun manusiawi
Dari titik itulah kita bisa belajar
Bagaimana cara memperbaiki diri
Melihat kenyataan hukum
Mungkin kita hanya bisa tersenyum
Teori yang ada begitu indah
Dalam realita begitu mudah berubah
Bahkan sumpah jabatan
Yang diucapkan di hadapan Tuhan
Seolah-olah dianggap hanya mainan
Padahal melanggar sumpah
Tak ubahnya menanam benih masalah
Keadilan seperti barang dagangan
Kepastian semakin terabaikan
Sehingga tak ada kemanfaatan
Yang dapat kita banggakan
Apabila terus dibiarkan
Akan menjadi bara kekecewaan
Dapat menyala menjadi api kebencian
Yang dapat merusak indahnya persatuan
Tanpa perlu pidato panjang
Nyalakan api kecil integritas mulai sekarang
Agar bara ketidakadilan,
yang bisa menghanguskan negeri ini
Berhadapan dengan cahaya kejujuran,
yang tumbuh dari dalam hati
Apalah gunanya kita berdebat
Apalah untungnya kita melaknat
Karena tak pernah ada persoalan
Yang bisa diselesaikan dengan kebencian
Kita bukan penguasa, hanya rakyat biasa
Bukan penegak hukum, hanya penyemai kata
Namun setiap kalimat yang lahir dari ketulusan
Adalah benih yang dapat menumbuhkan kebaikan
Malang, 26 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Filosofi Cinta Menurut Pandangan Sufi, Menyibak Tirai Ketuhanan di Era Kekosongan Makna
Kesalehan yang Terlupakan di Tengah Modernitas
Kehidupan Makin Timpang, NU Penyeimbang?
Kisah Ibnu Harjo, Sang Ulama Tersembunyi
Mutiara Pagi: Kembali ke Nol (Bagian 1942)
HUT RI ke-80, Jalan Santai dan Karnaval Bumi Marhamah Cianjur Disambut Meriah Warga
KH Hasyim Asyari
Mutiara Pagi: Hukum sebagai Panglima (Bagian 1943)
Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela
Umar bin Abdul Aziz dan Pajak