Filosofi Cinta Menurut Pandangan Sufi, Menyibak Tirai Ketuhanan di Era Kekosongan Makna

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 24 Agustus 2025 | 02:36 WIB
Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq al-Kindi, sang Filsuf Muslim (X.com/@RoyalHistoryEve)
Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq al-Kindi, sang Filsuf Muslim (X.com/@RoyalHistoryEve)

Oleh: MJ. Wijaya

Dalam tradisi tasawuf, cinta (mahabbah) bukan sekadar perasaan melankolis atau sentimental. Bagi para sufi, cinta adalah jalan menuju penyatuan eksistensial dengan Tuhan sebuah gerak ruhani yang menembus batas logika. Rabi’ah al-Adawiyah, tokoh perempuan sufi abad ke-8, pernah berkata: “Aku mencintai-Mu bukan karena takut neraka-Mu, bukan pula karena mengharap surga-Mu, melainkan karena Engkau layak dicintai.” Pernyataan ini mengguncang fondasi agama formal yang sering memosisikan ibadah sebatas transaksi antara pahala dan dosa.

Filosofi cinta sufi menolak bentuk cinta yang terjebak pada pamrih. Cinta sejati adalah cinta yang meluruhkan ego. Al-Hallaj, seorang sufi martir, bahkan mengorbankan hidupnya dengan pekik legendaris “Ana al-Haqq” (Akulah Yang Maha Benar). Pekikan itu bukanlah kesombongan, melainkan puncak ekstase ketika diri lenyap (fana’) dalam lautan cinta Ilahi.

Cinta di Era Kapitalisme dan Kekosongan Jiwa

Hari ini, cinta kerap direduksi menjadi komoditas. Ia hadir dalam iklan parfum, lagu populer, film murahan, hingga aplikasi kencan instan. Kapitalisme modern mengubah cinta menjadi transaksi: siapa yang berduit lebih, dialah yang dianggap pantas dicintai. Cinta kehilangan kesuciannya, berubah menjadi permainan simbolik tanpa kedalaman.

Di sinilah pandangan sufi hadir sebagai kritik keras. Ibn ‘Arabi, dalam Futuhat al-Makkiyyah, menyatakan: “Cinta adalah agamaku dan imanku.” Pernyataan itu bukan sekadar puisi, melainkan revolusi spiritual yang menempatkan cinta di atas segala fanatisme dan sekat-sekat agama formal. Dengan cinta, perbedaan agama, ras, dan bangsa menjadi relatif, sebab yang absolut hanyalah Sang Kekasih Sejati Allah.

Cinta sebagai Kritik Sosial

Cinta dalam pandangan sufi juga bersifat subversif. Ia menolak dominasi kekuasaan dan ketidakadilan. Jalaluddin Rumi menulis: “Cinta adalah pengobat dari segala luka. Ia adalah api yang membakar segala kotoran jiwa.” Bila cinta dipraktikkan dalam kehidupan sosial, ia bisa menjadi kekuatan revolusioner melawan kerakusan, korupsi, dan ketidakadilan.

Namun realitas kita justru memperlihatkan paradoks. Hubungan sosial digerogoti kebencian, politik identitas, dan intoleransi. Bangsa ini semakin jauh dari filosofi cinta sufi yang mengajarkan kasih universal. Akibatnya, manusia modern dikelilingi kemajuan teknologi, tetapi miskin kehangatan; hidup dalam hiruk pikuk, tetapi sunyi dari cinta sejati.

Menyibak Tirai Zaman

Filosofi cinta sufi bisa menjadi tawaran jalan keluar dari krisis spiritual zaman ini. Kita butuh cinta yang melampaui tubuh dan materi; cinta yang mempersatukan, bukan memecah; cinta yang menolak fanatisme buta dan merangkul keberagaman. Dalam bahasa Ibn ‘Arabi, “Al-hubb huwa al-wujud” cinta adalah wujud itu sendiri.

Maka, tugas manusia modern adalah mengembalikan cinta pada esensinya. Cinta tidak boleh berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi harus menjadi gerakan sosial, politik, dan budaya yang melawan dehumanisasi.

Penutup

Di tengah modernitas yang mereduksi cinta menjadi sekadar transaksi emosional, filosofi cinta sufi hadir sebagai lentera: mengingatkan bahwa cinta sejati bukan milik yang berharta atau berkuasa, melainkan keberanian meluruhkan ego dan kembali kepada Sang Kekasih Mutlak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X