Oleh: MJ. Wijaya
Dalam tradisi tasawuf, cinta (mahabbah) bukan sekadar perasaan melankolis atau sentimental. Bagi para sufi, cinta adalah jalan menuju penyatuan eksistensial dengan Tuhan sebuah gerak ruhani yang menembus batas logika. Rabi’ah al-Adawiyah, tokoh perempuan sufi abad ke-8, pernah berkata: “Aku mencintai-Mu bukan karena takut neraka-Mu, bukan pula karena mengharap surga-Mu, melainkan karena Engkau layak dicintai.” Pernyataan ini mengguncang fondasi agama formal yang sering memosisikan ibadah sebatas transaksi antara pahala dan dosa.
Filosofi cinta sufi menolak bentuk cinta yang terjebak pada pamrih. Cinta sejati adalah cinta yang meluruhkan ego. Al-Hallaj, seorang sufi martir, bahkan mengorbankan hidupnya dengan pekik legendaris “Ana al-Haqq” (Akulah Yang Maha Benar). Pekikan itu bukanlah kesombongan, melainkan puncak ekstase ketika diri lenyap (fana’) dalam lautan cinta Ilahi.
Cinta di Era Kapitalisme dan Kekosongan Jiwa
Hari ini, cinta kerap direduksi menjadi komoditas. Ia hadir dalam iklan parfum, lagu populer, film murahan, hingga aplikasi kencan instan. Kapitalisme modern mengubah cinta menjadi transaksi: siapa yang berduit lebih, dialah yang dianggap pantas dicintai. Cinta kehilangan kesuciannya, berubah menjadi permainan simbolik tanpa kedalaman.
Di sinilah pandangan sufi hadir sebagai kritik keras. Ibn ‘Arabi, dalam Futuhat al-Makkiyyah, menyatakan: “Cinta adalah agamaku dan imanku.” Pernyataan itu bukan sekadar puisi, melainkan revolusi spiritual yang menempatkan cinta di atas segala fanatisme dan sekat-sekat agama formal. Dengan cinta, perbedaan agama, ras, dan bangsa menjadi relatif, sebab yang absolut hanyalah Sang Kekasih Sejati Allah.
Cinta sebagai Kritik Sosial
Cinta dalam pandangan sufi juga bersifat subversif. Ia menolak dominasi kekuasaan dan ketidakadilan. Jalaluddin Rumi menulis: “Cinta adalah pengobat dari segala luka. Ia adalah api yang membakar segala kotoran jiwa.” Bila cinta dipraktikkan dalam kehidupan sosial, ia bisa menjadi kekuatan revolusioner melawan kerakusan, korupsi, dan ketidakadilan.
Namun realitas kita justru memperlihatkan paradoks. Hubungan sosial digerogoti kebencian, politik identitas, dan intoleransi. Bangsa ini semakin jauh dari filosofi cinta sufi yang mengajarkan kasih universal. Akibatnya, manusia modern dikelilingi kemajuan teknologi, tetapi miskin kehangatan; hidup dalam hiruk pikuk, tetapi sunyi dari cinta sejati.
Menyibak Tirai Zaman
Filosofi cinta sufi bisa menjadi tawaran jalan keluar dari krisis spiritual zaman ini. Kita butuh cinta yang melampaui tubuh dan materi; cinta yang mempersatukan, bukan memecah; cinta yang menolak fanatisme buta dan merangkul keberagaman. Dalam bahasa Ibn ‘Arabi, “Al-hubb huwa al-wujud” cinta adalah wujud itu sendiri.
Maka, tugas manusia modern adalah mengembalikan cinta pada esensinya. Cinta tidak boleh berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi harus menjadi gerakan sosial, politik, dan budaya yang melawan dehumanisasi.
Penutup
Di tengah modernitas yang mereduksi cinta menjadi sekadar transaksi emosional, filosofi cinta sufi hadir sebagai lentera: mengingatkan bahwa cinta sejati bukan milik yang berharta atau berkuasa, melainkan keberanian meluruhkan ego dan kembali kepada Sang Kekasih Mutlak.
Artikel Terkait
Katak dalam Tempurung, Antara Kebebasan yang Dibungkam dan Jiwa yang Terkungkung
Mutiara Pagi: Suara Hati Rakyat (Bagian 1941)
Perang Akal dan Harta: Mengupas Trik Koruptor ala Film 'Raid'
Edukasi Penanaman Sejak Dini: KKN Kelompok 1 STAI Al-Azhary Tanamkan Nilai Cinta Lingkungan pada Anak Usia Dini
KKN STAI Al-Azhary Perkenalkan Lagam Mahalul Qiyam Al-Barzanji di Desa Campaka
Tingkatkan Kualitas Air Kolam, Tim PkM UP45 Serahkan Alat Filtrasi Kepada Pemdes Danguran Klaten
Karang Taruna Cigalumpit Sukses Gelar Gebyar Kemerdekaan, Warga Antusias Meriahkan HUT RI ke-80
Bagaimana Jika Orang Bodoh Diberi Kuasa Mengelola Negara?
Wakil Bupati Lombok Tengah Apresiasi PC Development atas Program Pemberdayaan Berkelanjutan di Desa Sukarara
Mahasiswa KKN Hidupkan Semangat Literasi, Sukajadi Resmi Miliki Duta Literasi